Pohon Terakhir

Pohon Terakhir

Viral video kuskus di Merauke terjebak ekskavator. Simak analisis psikologi lingkungannya. -Nano Banana 2-Nano Banana 2

Ia tidak bisa membuat laporan polisi. Tidak pula bisa menandatangani petisi protes. Tidak bisa mendatangi kantor pemerintah. Apalagi menuliskan kalimat kemarahan lewat media sosial. 

Yang dapat dilakukannya hanya satu, memanjat lebih tinggi. 

Itulah gambaran dari sebuah video yang baru-baru ini viral. Seekor kuskus atau marsupial terlihat berada di atas pohon di hamparan lahan terbuka.

Tidak jauh dari sana, sebuah ekskavator merobohkan pohon. Satwa itu tampak bergerak ke atas, seperti sedang mencari perlindungan yang tersisa. Video tersebut diberitakan berasal dari Merauke, Papua Selatan.

Namun, hingga kini identitas pasti satwa, lokasi persis, serta kegiatan pembukaan lahan yang terkait belum terkonfirmasi resmi.

Mungkin video ini hanya “drama” kecil. Durasinya hanya beberapa detik bila dibandingkan dengan berita / video lainnya. Isinya satu hewan, satu pohon dan satu alat berat.

Namun, justru dalam adegan kecil itulah tersimpan pertanyaan besar: ketika sebuah pohon terakhir tumbang, siapa sebenarnya yang sedang kehilangan rumah? 

Bagi manusia yang melihat lahan dari peta proyek, pohon sering berubah menjadi angka. Berapa hektare yang harus dibuka. Berapa lama pekerjaan diselesaikan. Berapa target produksi yang dikejar. Dalam bahasa pembangunan, pohon yang berdiri di jalur alat berat mudah disebut hambatan. 

BACA JUGA:Daftar 88 Titik Pemantauan Hilal Idul Adha 2026 di Indonesia, Dari Aceh hingga Papua Barat

BACA JUGA:Yusril Tegaskan Pemerintah Tak Pernah Larang Nobar Film Pesta Babi soal PSN Papua

Bagi satwa itu, pohon bukan hambatan. Pohon adalah alamat hidupnya. Tempat berlindung. Tempat mencari makan. Tempat bertahan dari ancaman. Ketika pohon roboh, yang hilang tidak hanya batang, daun, dan dahan. Yang hilang ialah rasa aman paling dasar: masih adakah tempat untuk hidup hari ini?

Di sinilah psikologi lingkungan memberi cara pandang yang penting. psikologi lingkungan tidak memandang lingkungan sekadar latar di luar diri manusia. Manusia dan lingkungan berada dalam hubungan timbal balik.

Manusia mengubah lingkungan melalui jalan, bangunan, perkebunan, kawasan industri, atau pembukaan lahan. Sebaliknya, lingkungan yang telah berubah akan kembali membentuk manusia: menentukan rasa aman, kualitas hidup, emosi, kesehatan, bahkan cara kita memperlakukan kehidupan lain.

Daniel Stokols, salah seorang tokoh psikologi lingkungan, mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan lingkungan tidak semestinya hanya bersifat instrumental: alam dipandang semata-mata sebagai alat mencapai kepentingan ekonomi. Lingkungan juga memiliki makna psikologis dan moral.

Ia menjadi ruang hidup, sumber identitas, bahkan tempat manusia menemukan rasa terhubung dengan kehidupan yang lebih luas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: