Tren Dopamine Dressing dan Personal Color, Bikin Mood Naik Seharian

Tren Dopamine Dressing dan Personal Color, Bikin Mood Naik Seharian

Hasil personal color analysis berpengaruh ke gaya fashion seseorang--Vitkac

HARIAN DISWAY - Apa yang kita kenakan setiap pagi memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kondisi psikologis sepanjang hari.

Setiap orang pernah mengalami hari yang melelahkan. Namun, mendadak merasa lebih bersemangat. Hanya karena mengenakan baju favorit.

Itulah yang memunculkan tren dopamine dressing. Serta personal color. Yakni sebuah konsep berpakaian berbasis psikologi warna.

Memilih perpaduan warna pakaian yang tepat bukan lagi urusan estetika semata. Melainkan upaya mix and match. Tujuannya untuk mengelola mood secara mandiri.

Konsep dopamine dressing mengandalkan keberanian bermain warna cerah. Lebih berfokus pada beberapa poin penting penunjang penampilan. Sebagai berikut:


Temukan warna terbaik Anda melalui 12 seasonal personal color analysis.

1. Meningkatkan Kebahagiaan

Pilih warna-warna cerah. Seperti kuning ceria, hijau segar, atau biru terang. Warna-warna itu secara visual mampu merangsang otak melepaskan hormon dopamin.

BACA JUGA:Tips Memilih Warna Lipstik Sesuai Undertone Kulit

BACA JUGA:Tren Personal Color Analysis serta Pengaruhnya ke Fashion & Makeup

2. Kesesuaian Rona Kulit atau Personal Color

Dengan metode itu, kita bisa menemukan skala warna yang paling pas dengan undertone kulit asli. Sehingga wajah terlihat lebih segar, cerah, sekaligus tidak kusam.

3. Ekspresi Diri yang Berani

Jangan lagi menggunakan warna aman yang terlalu dominan. Akibatnya bisa terkesan monoton. Seperti hitam atau abu-abu. Gantilah dengan paduan kontras yang membangkitkan rasa percaya diri.

Artinya, dari sisi pengelolaan stres harian, metode berpakaian itu tergolong sangat baik dalam memberikan energi positif. Bahkan sejak pagi hari.

Gaya itu pun sangat personal. Karena lebih mengarah pada kenyamanan batin. Daripada sekadar mencari pujian dari orang lain.


Tren Personal Color semakin populer di kalangan Gen Z sebagai cara mengekspresikan gaya, mood, dan identitas visual, baik untuk fashion, aksesori, maupun barang yang mereka gunakan.-dok disway-

Keberhasilan tren itu dapat dicapai dengan kejelian. Seperti memadukan warna baju dengan aktivitas yang akan dilakukan.

Jika berhasil, penampilan Anda akan terlihat profesional sekaligus modis. Tapi jika diharuskan mengenakan pakaian resmi yang kaku seperti seragam kerja, maka penggunaan warna gelap atau warna netral bisa jadi pilihan yang baik.

BACA JUGA:Mengenal 12 Seasonal Personal Color Analysis, Temukan Warna yang Sesuai dengan Anda

BACA JUGA:5 Ide Outfit Colorful untuk Fan Meeting Kim Seon Ho, Terinspirasi Drakor Welcome to Waikiki 2

Sebab warna netral, seperti monokrom, memberikan keuntungan tersendiri. Itu dapat membuat pengguna mudah mencocokkan outfit. Tanpa perlu banyak pertimbangan.

Namun, jika berani keluar dari zona nyaman serta mulai mengaplikasikan warna cerah sesuai dengan personal color, itu akan mampu mengubah cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan sekitar.


Batik yang digunakan dengan stylish dan percaya diri.--Pinterest

Tubuh akan terasa lebih berenergi. Pancaran aura wajah menjadi lebih positif. Rasa cemas saat menghadapi tekanan pekerjaan bisa diredam dengan baik.

Sebab, rasa percaya diri sepanjang hari sejatinya tidak muncul dari ruang hampa. Melainkan dari keputusan kecil saat Anda memilih warna pakaian setiap pagi.

Perubahan kecil pada gaya berbusana itu dapat memastikan Anda selalu siap tampil prima. Dengan suasana hati yang selalu terjaga. (*)

*) Mahasiswa magang dari Prodi Ilmu Komunikasi, Untag Surabaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: