Gula Glowing

Gula Glowing

KOMISARIS UTAMA PT Sinergi Gula Nasional Dedi Supratman (tengah) dan Arif Afandi (dua dari kiri) di PG Ngadirejo, Kediri.-Arif Afandi untuk Harian Disway-

Nah, ketika ada tanda cerah di awal giling tahun ini, harapan publik ikut tumbuh. Tentu perjalanan masih panjang. Tantangan tetap besar. Mulai perubahan iklim, alih fungsi lahan, biaya produksi tinggi, hingga praktik perdagangan yang kadang tidak berpihak kepada petani dan industri nasional.

Namun, setidaknya, optimisme mulai terlihat. Itu penting. Sebab, industri gula tidak bisa dibangun hanya dengan mesin dan modal. Ia membutuhkan semangat kolektif. Membutuhkan keyakinan bahwa negeri ini mampu bangkit kembali menjadi bangsa gula besar seperti dulu.

Maka, momentum awal giling yang bening kali ini jangan sampai kembali mendung. Jangan sampai petani kembali terpukul oleh banjir gula impor ketika musim giling berlangsung. Jangan sampai pabrik gula dipaksa bertarung sendiri menghadapi inefisiensi struktural yang sudah puluhan tahun diwariskan.

Industri gula membutuhkan keberpihakan yang konsisten. Bukan sekadar kebijakan musiman. Sebab, menanam tebu bukan pekerjaan mingguan. Ini kerja tahunan yang membutuhkan kepastian harga, kepastian pasar, dan kepastian kebijakan.

Pada akhirnya, menjaga ekosistem industri gula untuk ketahanan pangan adalah kewajiban bersama. Pemerintah harus menghadirkan kebijakan yang melindungi dan menumbuhkan. Industri gula harus terus berbenah meningkatkan efisiensi dan profesionalisme. Petani tebu harus terus memperbaiki budi daya dan produktivitasnya.

Semua harus berjalan bersama. Sebab, gula bukan sekadar komoditas. Ia adalah bagian dari sejarah peradaban ekonomi Nusantara.

Sudah saatnya marwah industri gula dikembalikan. Seperti ketika Indonesia masih bernama Nusantara. Negeri yang pernah manis, kuat, dan disegani karena gulanya.

Masak nggak bisa? (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: