Penjualan Offline, Masihkah Marketable?

Penjualan Offline, Masihkah Marketable?

ILUSTRASI Penjualan Offline, Masihkah Marketable?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

SUATU hari ada pelanggan yang datang ke toko busana offline. Letak toko kecil itu tidak di jalan raya, tetapi di dalam perumahan alias permukiman penduduk. 

”Aku tadi ke sini cari-cari alamat toko ini, Mbak! Lumayan, masuk beberapa gang. Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga.”

Kondisi saat ini menunjukkan toko fisik (offline) berada pada fase transisi yang menantang. Seperti pepatah, ”hidup segan, mati pun enggan”. Meski e-commerce berkembang pesat, ternyata toko offline menyumbang lebih dari 85 persen transaksi ritel global. 

Hal tersebut menunjukkan bahwa banyak konsumen yang masih tetap membutuhkan toko offline sebagai pengalaman tatap muka dalam bertransaksi yang tentunya ada keunggulan-keunggulan di dalamnya.

Keunggulan

Dalam berbelanja offline, ada kepercayaan tinggi (trust) yang dibangun antara penjual dan pembeli. Pelanggan dapat melihat, menyentuh, dan mencoba produk secara langsung. Dengan melihat produk secara langsung, diikuti dengan edukasi penjual, pelanggan dapat memastikan bahwa produk sesuai atau tidak dengan yang diinginkan. 

Pelanggan baju akan melihat modelnya, warnanya, kualitas jahitannya, dan sebagainya. Semua produk offline dapat disentuh, diraba, bahkan dicium aromanya. Apakah bahan itu tebal, tipis, lembut, kasar, dingin, atau panas. 

Selain itu, keunggulan paling hakiki adalah dapat langsung dicoba. Pengalaman sensoris yang tidak bisa digantikan oleh layar online.

Sebagai pelanggan offline, pengalaman berbelanja (experiential) sering menjadi ajang interaksi. Pelanggan sering kali mencari interaksi personal dan nilai tambah dari pelayanan yang ramah di toko.

Interaksi personal yang sering muncul adalah soal harga. ”Kasih diskon tambahan lagi dong, kan sudah langganan.” Atau, ”ada bonus apa ya hari ini, aku belanja banyak, lho.” 

Bahkan, interaksi yang tak berkaitan dengan produk pun sering muncul akibat dari pelayanan yang ramah. Misalnya, sambil berbelanja, pelanggan bercerita tentang keluarganya dan anak-anaknya yang sukses. 

Ada juga yang curhat pernah ditipu saat berbelanja online, barang tidak sesuai dengan gambar/video. Hal itu memberikan pengalaman imersif yang membuat orang betah berlama-lama di toko.

Keunggulan lain ada pada soal transaksi atau pembayaran secara langsung di toko. Transaksi dilakukan setelah pelanggan akan mengakhiri berbelanja. Transaksi tunai (cash) atau nontunai (cashless/digital) berlangsung saat itu juga. 

Tampaknya, transaksi tunai masih digemari selain transaksi nontunai. Dengan pembayaran tunai, sifatnya praktis dan instan tanpa memerlukan perangkat elektronik (jaringan internet), bebas biaya transaksi, serta menjaga privasi karena tidak ada jejak data pribadi. Metode itu dilakukan pelanggan agar membantu mengontrol pengeluaran dan menghindari utang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: