Penjualan Offline, Masihkah Marketable?

Penjualan Offline, Masihkah Marketable?

ILUSTRASI Penjualan Offline, Masihkah Marketable?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Walaupun masih menjadi pilihan yang mempunyai kekuatan, penjualan offline pun punya kelemahan. Kelemahan utama penjualan offline meliputi jangkauan pasar yang terbatas akibat faktor geografis, biaya operasional, tempat, dan waktu operasional yang terbatas pula. 

Jangkauan pasar yang terbatas itu menjadi kendala jika tidak diikuti dengan strategi penjualan online yang sedang masif saat ini.

Strategi

Penjualan offline, meski masih diminati banyak konsumen, tetap memerlukan strategi jitu dalam pemasarannya. Penyebaran materi cetak seperti brosur, flyer, atau katalog produk di area strategis dan ramai (sekitar toko, sekolah, atau pusat perbelanjaan) banyak dilakukan untuk menarik perhatian lokal. 

Brosur itu dapat dilengkapi dengan iming-iming menarik seperti mendapatkan suvenir jika brosur dibawa ke toko. Strategi tersebut sangat berdampak karena bertujuan agar calon pelanggan dapat segera mengunjungi toko.

Pemasaran berbasis acara (event marketing) juga dapat menjadi pilihan. Dengan membuka booth atau menjadi sponsor di berbagai acara lokal, bazar, lomba di sekolah, hingga acara akbar untuk berinteraksi langsung dan memberikan pengalaman langsung kepada calon pelanggan. Strategi itu sangat kuat sehingga calon pelanggan secara langsung menemukan produk di tempat event.

Hybrid marketing. Pada era digital ini, penjual offline tidak boleh menutup mata akan berkembangnya cara memasarkan produknya secara digital (online). Penjualan offline tentu tetap ada, tetapi sistem online juga wajib dilakukan secara berdampingan (hybrid). 

Sebagai contoh, Ikea dan Informa adalah merek furnitur ternama/tepercaya yang memiliki gerai offline di berbagai mal, kini ikut merambah di dunia online (marketplace) di Indonesia seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, dan Blibli. 

Demikian pula dengan barang elektronik bermerek seperti Samsung, Apple, LG, Sony, Philips, dan Panasonic. Gerai fesyen Matahari pun sudah merambah di live streaming berbagai marketplace

Sinergi itu sangat efektif dan bertujuan membangun kedekatan emosional, memperluas jangkauan pasar, dan menciptakan pengalaman pelanggan secara menarik. 

Influencer marketing. Dalam membangun kedekatan emosional, pemasaran itu dapat dilakukan dengan mengajak seorang influencer atau kreator konten untuk mengenalkan produk/brand. Hal itu dapat dilakukan dengan membuat konten di media sosial atau live streaming di marketplace

Popularitas seorang influencer itu sebaiknya dipilih berdasar demografi pengikut sesuai dengan lokasi fisik toko. Misalnya, toko di Surabaya, pemilihan kreator yang tepat adalah orang Surabaya dengan bahasa khas Surabaya. 

Hal tersebut terbukti efektif. Influencer membagikan konten ajakan di media sosial untuk berbelanja online dan menginstruksikan datang langsung ke lokasi toko dengan keahlian storytelling-nya.

Strategi itu pilihan dan eksekusi itu tujuan. Dengan masih bertebarannya toko offline di sekitar kita, akankah toko offline mampu bertahan dan masih jadi pilihan? (*)

*) Bea Anggraini adalah dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: