Iduladha dan Perputaran Ekonomi Umat

Iduladha dan Perputaran Ekonomi Umat

ILUSTRASI Iduladha dan Perputaran Ekonomi Umat.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Kurban seharusnya dipandang bukan hanya sebagai kegiatan tahunan yang bersifat seremonial, tetapi juga sebagai instrumen penguatan ekonomi umat. 

Jika dikelola dengan baik, Iduladha dapat menjadi momentum pemerataan ekonomi yang efektif di tengah meningkatnya kesenjangan sosial masyarakat.

Kurban Digital

Di era digital saat ini, pola masyarakat dalam berkurban mulai berubah. Tren kurban online berkembang cukup pesat karena dianggap lebih praktis. 

Masyarakat tidak perlu datang langsung ke pasar hewan atau kandang, tetapi cukup memilih paket kurban melalui platform digital. Umumnya, pembeli dapat melihat informasi mengenai jenis hewan, kisaran berat, harga, hingga lokasi penyaluran kurban.

Meski demikian, perkembangan kurban digital tetap membuka peluang pasar yang lebih luas bagi peternak dan lembaga penyalur kurban. Selain memudahkan masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan waktu, sistem itu juga membantu distribusi kurban ke daerah-daerah yang membutuhkan.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu bertentangan dengan nilai-nilai tradisional keagamaan. 

Sebaliknya, teknologi justru dapat menjadi sarana untuk memperkuat efektivitas distribusi kurban. Bahkan, digitalisasi membuka peluang pemerataan distribusi daging kurban ke daerah-daerah yang lebih membutuhkan.

Meski demikian, perkembangan kurban digital juga perlu diimbangi dengan pengawasan dan edukasi yang baik. Transparansi mengenai kualitas hewan, proses penyembelihan, hingga distribusi daging harus benar-benar dijaga agar kepercayaan masyarakat tetap tinggi. 

Jangan sampai kemudahan transaksi justru dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Selain itu, momentum Iduladha membuka peluang inovasi ekonomi baru, khususnya dalam sektor pangan. Selama ini, sebagian besar daging kurban dibagikan dalam bentuk mentah dan harus segera dikonsumsi. Padahal, daging kurban dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang memiliki daya simpan lebih panjang.

Misalnya, daging kurban dapat diolah menjadi frozen food, rendang kemasan, abon, bakso, atau makanan siap saji lainnya. Pengolahan tersebut tidak hanya membantu mengurangi potensi pemborosan, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru bagi UMKM pangan. Jika dikelola dengan baik, pengolahan pascakurban dapat menjadi sumber ekonomi produktif yang berkelanjutan.

Iduladha bukan hanya peristiwa ibadah tahunan, melainkan juga momentum sosial ekonomi yang memiliki dampak sangat luas. Di dalamnya terdapat nilai spiritual, solidaritas sosial, distribusi kesejahteraan, hingga penguatan ekonomi masyarakat. 

Karena itu, semangat kurban seharusnya tidak berhenti pada ritual penyembelihan semata. Lebih dari itu, Iduladha perlu dimaknai sebagai upaya membangun ekonomi umat yang inklusif, berkeadilan, dan saling menguatkan. (*) 

*) Tika Widiastuti, guru besar di Departemen Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: