Ambon Berkorban
SUASANA salat Iduladha 2026 di Masjid Al Fatah, Ambon.-Arif Afandi untuk Harian Disway-
Di sinilah saya menjadi paham mengapa masalah tersebut bisa mengusik kemarahan ketika peran pendamai itu dipermasalahkan. Hanya karena kepentingan politik dari orang-orang di Jakarta yang dinilai kurang memiliki empati terhadap sejarah pedih itu.
Memang, bagi orang yang tidak pernah kehilangan rumah, mungkin kerusuhan hanya angka statistik. Bagi orang yang tidak pernah menjadi pengungsi, konflik hanya catatan sejarah di buku pelajaran.
Namun, bagi mereka yang mengalaminya, kerusuhan adalah kenangan tentang malam-malam yang penuh ketakutan, tentang keluarga yang terpisah, tentang masa kecil yang dirampas oleh kebencian yang sebenarnya tidak mereka pahami.
Saya melihat itu dari cerita keluarga. Dari percakapan yang sesekali muncul ketika mengenang masa lalu. Dari cara orang-orang Ambon berbicara tentang perdamaian dengan nada yang berbeda.
Mereka tidak berbicara tentang perdamaian sebagai konsep. Mereka berbicara tentang perdamaian sebagai kebutuhan hidup. Sebab, mereka pernah merasakan betapa mahal harga sebuah konflik.
Anak mantu saya merasakan itu di masa kecilnya. Di usianya yang baru 5 tahun, ia harus berpisah dengan kedua orang tuanya untuk mengungsi ke Surabaya. Bersama kakak perempuannya yang masih kecil. Berhari-hari menumpang kapal perang ke Surabaya.
Karena itu, ketika berkunjung ke Ambon kali ini, yang saya lihat bukanlah kota yang menyimpan dendam. Justru sebaliknya. Saya melihat kota yang berusaha berdamai dengan masa lalunya.
Saya melihat warga muslim dan kristiani yang kembali hidup berdampingan. Saya melihat semangat pela gandong yang terus dihidupkan sebagai pengingat bahwa persaudaraan harus lebih kuat daripada perbedaan.
Tentu luka sejarah tak pernah benar-benar hilang. Namun, bangsa yang dewasa bukanlah bangsa yang melupakan lukanya. Bangsa dewasa adalah bangsa yang mampu mengingat luka itu dengan jernih agar tidak berulang.
Sejarah kerusuhan Ambon semestinya tidak dijadikan bahan untuk saling menyalahkan. Apalagi, dijadikan komoditas politik sesaat. Apalagi, hanya untuk kepentingan mendulang suara dukungan.
Terlalu banyak air mata yang jatuh untuk sekadar dijadikan bahan adu narasi. Terlalu banyak korban yang kehilangan masa depan untuk dijadikan alat meraih keuntungan politik jangka pendek.
Yang jauh lebih penting adalah menjadikan pengalaman pahit itu sebagai pelajaran bersama. Bahwa konflik sosial tidak pernah lahir begitu saja. Ia selalu ada pemantiknya.
Biasanya, kekerasan diawali prasangka. Diperbesar provokasi. Lalu, dipelihara kepentingan. Ketika masyarakat kehilangan ruang dialog dan elite kehilangan tanggung jawab moral, percikan bisa berubah menjadi kebakaran besar.
Hari ini perjalanan itu menjadi makin relevan. Saat kita baru saja memperingati Hari Kesaktian Pancasila, 1 Juni. Hari yang diyakini sebagai hari lahirnya falsafah yang jadi dasar ideologi bangsa. Yang telah menyatukan bangsa.
Apalagi, ditambah era di tengah derasnya media sosial, disrupsi politik, polarisasi identitas, dan ketidakpastian global. Saat benih-benih perpecahan bisa menyebar jauh lebih cepat daripada 20 tahun lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: