Ambon Berkorban
SUASANA salat Iduladha 2026 di Masjid Al Fatah, Ambon.-Arif Afandi untuk Harian Disway-
Jika dahulu orang harus menyebarkan selebaran atau isu dari mulut ke mulut, kini kebencian dapat menyebar hanya dengan satu sentuhan jari. Siapa pun bisa memantik kebencian dan permusuhan dari mana dan kapan saja.
Singkat kata, menjaga Indonesia tak cukup hanya dengan membangun jalan, pelabuhan, atau gedung tinggi. Yang tak kalah penting adalah membangun narasi kebangsaan yang sehat. Narasi yang menghormati kemajemukan. Yang menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan ancaman.
Indonesia lahir bukan dari keseragaman. Indonesia berdiri karena keberanian para pendiri bangsa menerima kenyataan bahwa negeri ini terdiri atas ribuan pulau, ratusan suku, berbagai bahasa, dan beragam keyakinan. Kemajemukan adalah fondasi yang harus dirawat.
Saatnya Indonesia masa depan dibangun dari titik yang sama: empati. Empati kepada mereka yang pernah menjadi korban konflik. Empati kepada kelompok yang berbeda pandangan. Empati kepada mereka yang berasal dari latar belakang agama, suku, dan budaya yang berbeda.
Tanpa empati, kemajemukan hanya menjadi slogan. Dengan empati, kemajemukan berubah menjadi energi yang mempersatukan. Melalui empati, kita bisa menjadikan bangsa ini besar sesuai dengan cita-cita bersama.
Ambon telah memberikan pelajaran mahal kepada bangsa ini. Pelajaran yang dibayar dengan air mata, kehilangan, dan trauma yang panjang. Tugas kita sekarang tidak sekadar mengenangnya, tetapi juga memastikan tragedi serupa tidak pernah terulang.
Mengapa demikian? Sebab, Indonesia yang kuat bukan Indonesia yang bebas dari perbedaan. Indonesia yang kuat adalah Indonesia yang mampu mengelola perbedaan menjadi persaudaraan.
Dari Ambon, kita belajar berkorban. Berkorban untuk bersama menjaga persaudaraan. Berkorban untuk bersama menyembuhkan luka. Berkorban menghapus rasa pilu akibat kesalahan masa lalu.
Sungguh, tahun ini saya merayakan Hari Raya Kurban di kota yang warganya berkorban dengan luka sejarah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dari Ambon, saya belajar berkorban melawan ego kita. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: