Ambon Berkorban
SUASANA salat Iduladha 2026 di Masjid Al Fatah, Ambon.-Arif Afandi untuk Harian Disway-
SUDAH AKRAB puluhan tahun, baru sekarang benar-benar merasakan suasana sesungguhnya secara langsung. Itulah Kota Ambon yang menjadi ibu kota Provinsi Maluku.
Ini gara-gara saya punya menantu pria Ambon. Tepatnya Jawa-Ambon. Hanya dia lama tinggal di Surabaya. Sejak kerusuhan Ambon di akhir tahun 1990-an. Suaminya anak mbarep itu pengungsi sejak usia 5 tahun.
Sebetulnya, saya sudah tiga kali ke Ambon pasca kerusuhan berkedok agama itu. Kemarin agak lama karena melayat besan yang meninggal dunia: dr Abdurahman Polanunu. Ia puluhan tahun jadi satu-satunya dokter anak di pulau itu.
Yang paling istimewa bisa salat Iduladha di Masjid Al Fatah, Ambon. Masjid yang menjadi tempat pengungsian warga muslim saat kerusuhan. Tak jauh dari masjid itu, ada Gereja Maranata yang menjadi basis warga Kristen.
BACA JUGA:Bentrok Berdarah di Hari Ultah Ambon
BACA JUGA:Debt Collector yang Bentak Polisi Jakarta Ditangkap di Saparua, Ambon
Puluhan tahun saya akrab dengan Kota Ambon dan tempat itu dalam imajinasi. Kok bisa? Ya. Sebab, saya pernah lama menjadi redaktur halaman Indonesia Timur. Tiap hari memeriksa dan memperbaiki berita kiriman dari kota tersebut. Juga, saat kerusuhan Ambon terjadi.
Jangan bayangkan seperti sekarang. Yang orang bisa kirim gambar video setiap saat. Dulu, untuk mendalami daerah jarak jauh hanya bergantung kepada laporan pandangan mata wartawan. Terkadang dibantu dengan foto.
Dulu hanya dengan bantuan peta ketika harus menyunting laporan wartawan. Sehingga bisa menggambarkan peristiwanya secara benar. Membantu pembaca agar seakan-akan berada di lokasi peristiwa. Begitulah pekerjaan redaktur saat itu.
Karena itulah, setelah berkesempatan salat Id di Masjid Al Fatah, saya kembali mengenang imaji itu. Membayangkan para pengungsi muslim saat terjadi kerusuhan. Konflik primordial yang terjadi di masyarakat yang sudah punya alat pemersatu adat bernama pela gandong.
Pela gandong adalah sistem ikatan persaudaraan dan perjanjian sosial antarkampung (negeri) di Maluku. Pela berarti perjanjian persaudaraan. Sedangkan gandong berarti saudara kandung yang berasal dari satu rahim. Sistem itu mengikat masyarakat dalam solidaritas, gotong royong, dan perdamaian.
Demikianlah warga Ambon yang berbagai suku, marga, dan keyakinan itu membangun kebersamaan. Mereka selalu damai sejak lama. Karena itu, banyak yang tidak percaya kerusuhan berbasis agama itu bisa pecah di sana. Yang sempat membawa ratusan korban jiwa.
Saya juga melewati Gereja Maranata yang menjadi tempat pengungsian warga Kristen. Yang lokasinya tak jauh dengan Masjid Al Fatah. Dua tempat ibadah tersebut memang berada di pusat kota yang indah karena terdiri atas bukit dan laut itu.
Kerusuhan tersebut jelas menjadi luka yang tak diharapkan semua orang yang waras. Karena itu, ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla saat itu berjuang mendamaikan secara tuntas, itu adalah berkah yang luar biasa bagi warga Ambon. Juga, bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: