Maling Berkedok Gizi
ILUSTRASI Maling Berkedok Gizi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Ini tentu kesalahan fatal dalam melakukan judgment terhadap seseorang yang akan memimpin sebuah program besar. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa pola rekrutmen dengan menggunakan insting seperti yang dilakukan Prabowo bisa membawa bencana.
Tragedi MBG itu seharusnya bisa dijadikan momen oleh Prabowo untuk jeda. Untuk melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan program MBG. Saatnya Prabowo mau sedikit buka telinga untuk mendengarkan para pengkritiknya.
Tapi, itu bukan gue banget. Bukan Prabowo kalau mau mendengar masukan. Bukan Prabowo kalau mau mendengar kritik. Bukan Prabowo kalau mau mengakui kesalahan. Bukan Prabowo kalau tidak keras kepala.
Prabowo keras kepala. Ia mengakui itu. Dan bangga. Sambil berusaha sedikit melucu ia memegang kepalanya. Katanya, keras kepala perlu untuk mempertahankan prinsip.
Prinsip keras kepala itulah yang dipertahankan Prabowo. Alih-alih jeda sambil merenung dan mengevaluasi, Prabowo langsung tancap gas. Mengangkat Nanik S. Deyang sebagai pengganti Dadan. Bukan sebagai Plt atau Pjs sambil mencari orang yang lebih tepat, tapi langsung meng-handpick Nanik sebagai pejabat permanen.
Sekali lagi Prabowo masuk ke lubang yang sama. Publik tahu, tidak ada alasan yang paling masuk akal kecuali bahwa orang pilihan Prabowo itu adalah orang dekatnya. Prabowo suka sekali dikeliling bubble yang membuatnya merasa aman dan nyaman.
Francis Fukuyama membagi kepercayaan sosial berdasarkan luas radius kepercayaan (radius of trust). Fukuyama mengategorikan masyarakat ke dalam dua kelompok, yaitu high-trust society, ’masyarakat dengan tingkat saling percaya yang tinggi’, dan low-trust society, ’masyarakat yang hanya percaya pada lingkungan sempit seperti keluarga dan kekerabatan’.
Masyarakat yang hanya percaya pada lingkaran kecil, nepotisme, atau ikatan primodial sering kali menghambat kerja sama skala besar di luar kelompoknya, yang berdampak pada lambatnya pertumbuhan ekonomi dan demokrasi.
Masyarakat demokratis yang matang justru membutuhkan kepercayaan antarpribadi yang meluas (general trust). Ruang lingkup kepercayaan yang terbatas bisa menjadi ciri dari kultur low trust, yang menjadi tantangan bagi terciptanya masyarakat sipil yang kuat dan demokratis.
Prabowo cenderung punya low trust kepada orang lain. Ia lebih percaya kepada orang-orangnya sendiri, termasuk Tim Mawar.
Ia memberikan jabatan tinggi kepada anggota Tim Mawar, tapi tidak semuanya berhasil. Salah satunya, Dirjen Bea Cukai Letjen Djaka Budi Utama, sedang dibidik dalam kasus korupsi.
Prabowo boleh saja tetap keras kepala. Korupsi merajalela di sekitarnya. Nilai tukar rupiah ambruk. Krisis ekonomi dan politik di depan mata.
Kalau Prabowo tetap keras kepala, cepat atau lambat, ia bisa kehilangan kepalanya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: