IHSG Anjlok Diprediksi hingga Pekan Depan
Ilustrasi. Penutupan IHSG Sesi I terpantau melemah melemah sebanyak 147,63 poin atau setara dengan 2,53 persen ke level 5.692,16-Foto: Bianca/Disway.id-
BACA JUGA:Alfamart Beri Sinyal Harga Barang Bakal Naik, Supplier Mulai Tertekan Imbas Rupiah Melemah
BACA JUGA:BI Terapkan 7 Strategi untuk Menahan Laju Pelemahan Rupiah
Sebaliknya di Indonesia, banyak pelaku pasar masuk ke bursa untuk mengejar keuntungan cepat sehingga lebih sensitif terhadap gejolak harga.
"Padahal secara logika dasar, sebagus apa pun fundamental perusahaannya, kalau pasarnya sangat fomo, indeksnya pasti akan ikut ambruk seperti yang kita lihat sekarang," pungkasnya.
Pandangan serupa disampaikan Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan. Ia menilai kejatuhan IHSG dalam dua hari terakhir merupakan hasil akumulasi berbagai sentimen negatif dari dalam maupun luar negeri.
"Eskalasi ketegangan geopolitik baru di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap rantai pasok energi global. Sentimen ini berpadu dengan fluktuasi nilai tukar rupiah dan pengetatan kebijakan suku bunga," ujarnya.
BACA JUGA:IHSG Kena Imbas Rupiah Anjlok, Turun 4,11 Persen ke Level 5.941
BACA JUGA:Ketergantungan Impor Tinggi, DPR Ingatkan Pelemahan Rupiah Bisa Berdampak ke Sektor Pangan
Menurut David, kombinasi faktor tersebut membuat investor cenderung mengambil posisi defensif dan melakukan penyesuaian portofolio dalam jangka pendek.
Tekanan terbesar terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan yang selama ini menjadi motor utama pergerakan IHSG.
"Sektor perbankan menjadi yang paling terdampak karena sering kali menjadi instrumen utama penataan likuiditas oleh investor institusi," jelasnya.
Selain itu, aksi ambil untung pada saham-saham konglomerasi yang sebelumnya sempat menguat juga ikut mempercepat penurunan indeks.
Memasuki pekan depan, David memperkirakan pasar masih bergerak sangat volatil. Investor akan mencermati pergerakan rupiah serta agenda peninjauan indeks global yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juni.
Karena itu, ia mengingatkan pelaku pasar agar tidak bereaksi berlebihan terhadap koreksi yang sedang terjadi.
"Momentum koreksi teknikal ini justru dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham yang memiliki fundamental kokoh," tandasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: