IHSG Anjlok Diprediksi hingga Pekan Depan

IHSG Anjlok Diprediksi hingga Pekan Depan

Ilustrasi. Penutupan IHSG Sesi I terpantau melemah melemah sebanyak 147,63 poin atau setara dengan 2,53 persen ke level 5.692,16-Foto: Bianca/Disway.id-

"Agak tidak masuk akal karena fundamentalnya itu bagus. Logikanya, kalau fundamental emiten apik, harga saham harusnya naik. Tapi ternyata, faktor pengaruh regulator dan makro itu jauh lebih besar," jelasnya.

BACA JUGA:IHSG Berpotensi Turun Jelang Pengumuman Rebalancing MSCI Saham RI

BACA JUGA:Rupiah Melemah, DPR Minta Pemerintah Percepat Substitusi Impor dan Genjot Ekspor Sektor Produktif

Gagas melihat ada dua faktor utama yang membuat pasar kehilangan arah. Pertama adalah pelemahan rupiah yang terus berlanjut hingga menembus rekor terburuk sepanjang sejarah.

Kedua, meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan berbagai dinamika politik yang ditafsirkan berlebihan oleh pelaku pasar.

Di saat bersamaan, kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia juga mulai tergerus oleh sejumlah sentimen eksternal. Mulai dari evaluasi lembaga pemeringkat global seperti Moody's dan MSCI, arus keluar dana asing, hingga konflik geopolitik di Timur Tengah.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang belum menunjukkan titik temu turut memperburuk sentimen global.

BACA JUGA:Mengapa Warga Desa Harus Cemas saat Rupiah Tembus Rp18.013 per Dolar AS Hari Ini?

BACA JUGA:Kurs Rupiah Hari Ini Anjlok ke Rp18.013 per Dolar AS, Terlemah dalam Sejarah!

Akibatnya, banyak investor memilih melakukan cut loss untuk mengurangi risiko kerugian yang lebih besar.

"Banyak investor yang akhirnya memilih cut loss. Atau mending rugi sedikit daripada uang mereka hilang sepenuhnya. Akibatnya, volume transaksi terus menurun karena mereka yang sudah menjual sahamnya belum mau kembali ke pasar," katanya.

Gagas juga menyoroti karakter investor domestik yang masih didominasi trader jangka pendek dibanding investor jangka panjang.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pasar saham Indonesia lebih rentan terhadap kepanikan ketika muncul sentimen negatif.

Ia membandingkan dengan negara-negara maju seperti kawasan Skandinavia, di mana masyarakat telah memisahkan dana investasi dengan kebutuhan sehari-hari maupun dana darurat.

Karena menggunakan "uang dingin", investor di negara maju cenderung tidak mudah panik saat pasar mengalami koreksi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: