Rupiah Anjlok, Perbankan Nasional Dihadapkan Risiko Kredit Macet

Rupiah Anjlok, Perbankan Nasional Dihadapkan Risiko Kredit Macet

Bank Indonesia akan memperkuat intervensi pasar pasca melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat di angka Rp18.000-Disway.id/Bianca Khairunnisa-

Namun, Andi mengingatkan bahwa intervensi semacam itu sifatnya terbatas, hanya menahan atau memperlambat.

BACA JUGA:IHSG Anjlok 2,5 Persen ke Level 5.692, Rupiah Rp18.033 per Dolar AS Jadi Pemicu Utama

BACA JUGA:Rupiah Melemah, DPR Minta Pemerintah Percepat Substitusi Impor dan Genjot Ekspor Sektor Produktif

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 turun 1,35 persen menjadi USD146,2 miliar. Turun dibandingkan posisi akhir Maret 2026 yang sebesar USD148,2 miliar.

Jika cadangan dolar terkuras habis dan rupiah terus anjlok, pengaruh psikologis ke pasar akan sangat berbahaya. 

Menurutnya, melawan pasar secara frontal itu berat. Sebab, Indonesia punya memori kelam tahun 1998 saat rupiah terjun dari Rp 1.800 ke Rp 16.000 per dolar AS.

BACA JUGA:IHSG Kena Imbas Rupiah Anjlok, Turun 4,11 Persen ke Level 5.941

BACA JUGA:Redam Pelemahan Rupiah, Pemerintah Diminta Perkuat Konsumsi Domestik dan Kurangi Ketergantungan Impord

"Jika kejatuhan itu tidak terbendung, krisis kepercayaan terhadap nilai rupiah akan memicu bank rush," tegas Andi.

Nasabah yang panik akan menarik dana rupiah mereka dan berbondong-bondong memindahkannya tabungannya ke dolar AS demi mengamankan nilai aset. 

Untuk mencegah terjadinya bank rush, bank dipastikan akan mengambil langkah defensif dengan menaikkan suku bunga simpanan. Tujuannya jelas, untuk menahan agar rupiah milik nasabah tidak terbang ke tempat lain atau dikonversi ke mata uang asing.

Namun, langkah ini juga bukan tanpa risiko, kata Andi. Ketika bunga simpanan dinaikkan demi mencegah rush, di sisi lain bank tidak bisa serta-merta menaikkan bunga kredit secara ugal-ugalan karena sektor riil sudah tertekan NPL.

”Akibatnya, Net Interest Margin (NIM) bank akan menipis drastis, dan keuntungan bank bakal tergerus," papar Andi.

Meski berisiko, langkah menekan NIM perbankan ini bisa menjadi solusi di tengah krisis geopolitik yang terus menekan rupiah saat ini. Suku bunga simpanan dinaikkan akan membuat orang mau menyimpan uang di perbankan. 

Menghadapi potensi penurunan minat nasabah dan ancaman psikologis pasar ini, Andi Estetiono menyarankan dua langkah taktis yang harus segera dilakukan oleh perbankan saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: