Menyambut Kepulangan Para Haji

Menyambut Kepulangan Para Haji

ILUSTRASI Menyambut Kepulangan Para Haji.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Saat para haji pulang ke tanah air, baik yang pulang pada tahun yang sama maupun yang telah lama bermukim, menjadi lebih fanatik terhadap agama yang dianut serta lebih kritis terhadap penjajah Belanda. 

Bagi mereka, agama bukan hanya masalah ritual, melainkan juga alat pembebas untuk melawan penjajah Belanda. Kedalaman dalam mempelajari Islam selama berada di Tanah Suci telah membuka pikiran mereka bahwa agama berdimensi sangat luas. 

Saat mereka tiba di tanah air dan mendapati bangsanya dalam keadaan lemah ketika berhadapan dengan penjajah, kemudian tergerak untuk memimpin perlawanan. 

BACA JUGA:Haji: Kongres Politik Akbar Umat Islam Sepanjang Zaman

BACA JUGA:Haji Ilegal: Ancaman Nyata yang Harus Dibasmi Habis

Kajian yang dilakukan sejarawan Sartono Kartodirdjo mengenai pemberontakan petani Banten pada akhir abad ke-19, ternyata dipimpin para haji. Para haji menjadi panutan di komunitas-komunitas mereka karena dianggap sebagai sosok istimewa. 

Mereka dianggap memiliki kemampuan spiritual yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat kebanyakan. Apa yang diucapkan seorang haji secara otomatis akan diikuti pengikutnya tanpa bantahan. Para haji menjadi ujung tombak perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Hal yang sama terjadi pada perioda kebangkitan nasional. Terdapat tiga sosok haji yang menjadi inspirasi berdirinya organisasi pergerakan yang secara aktif melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. 

Mereka adalah Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, Haji Omar Said Cokroaminoto pemimpin Sarekat Islam, serta Kiai Haji Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama. 

BACA JUGA:Antara Diskresi dan Kriminalisasi Kebijakan: Praperadilan Kasus Kuota Tambahan Haji 2024

BACA JUGA:Review UU 14/2025 tentang Haji dan Umrah, Perlu dan Mendesak

Organisasi yang mereka dirikan telah menjadi penggerak perubahan sejak masa kolonial sampai saat ini. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama berkembang menjadi organisasi besar yang memiliki peran penting dalam mengembangkan sumber daya manusia melalui lembaga pendidikan yang mereka kelola. 

Muhammadiyah mendirikan pendidikan berbasis sekolah modern, sedangkan Nahdlatul Ulama mendirikan pesantren yang fokus mengembangkan pendidikan agama. 

Saat Indonesia merdeka, kiprah para haji dilakukan melalui berbagai saluran, baik di sektor pemerintahan maupun swasta. Peran sentral para haji tidak hanya di sektor keagamaan, tetapi juga meluas ke sektor-sektor yang lain. Haji menjadi penggerak di banyak komunitas karena posisinya yang penting secara kultural. 

Kesadaran Sosial Para Haji

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: