Menyambut Kepulangan Para Haji

Menyambut Kepulangan Para Haji

ILUSTRASI Menyambut Kepulangan Para Haji.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Kita tentu saja menunggu kiprah nyata para haji yang baru saja tiba di tanah air. Bukan hanya dimensi spiritual yang bersifat individual yang diharapkan lahir dari mereka. Para haji yang jumlahnya terus bertambah hendaknya makin mempertebal kiprah mereka di masyarakat sesuai dengan peran masing-masing. 

BACA JUGA:Ketika Penyidikan Kuota Haji Menjadi Labirin

BACA JUGA:Arah Reformasi Tata Kelola Keuangan Haji: Antara Amanah, Profesionalisme, dan Kemaslahatan Umat

Tindakan sosial yang dilandasi dimensi spiritual memiliki legitimasi yang sangat kuat, bahwa setiap tindakan manusia harus memiliki kesadaran berketuhanan. Kesadaran semacam itu harus dibangun oleh setiap haji di ruang-ruang sosial tempat mereka berkiprah. 

Para haji yang merupakan pejabat negara harus bisa menjadi teladan di  lembaga yang ia pimpin. Ia memiliki tugas untuk memastikan bahwa lembaga negara yang ia pimpin menjadi bersih, terbebas dari tindak korupsi, serta melayani masyarakat dengan sepenuh hati. 

Saat puluhan pejabat negara ditangkap karena tindak pidana korupsi, pejabat negara yang baru saja menjalankan ibadah haji harus menjadi perkecualian, bahkan harus menjadi contoh bagi pejabat yang lain. 

Kekuatan spiritual yang mereka bawa dari Tanah Suci hendaknya menjadi penggerak ke arah kebaikan. Lembaga negara yang dipimpin seorang haji seyogianya jauh lebih baik daripada yang lain.

Haji yang berasal dari kalangan kebanyakan juga memiliki tugas yang sama. Dengan menyandang gelar haji, status sosial dan kultural mereka di tengah-tengah masyarakat menjadi tinggi. 

Ketokohan para haji berperan penting untuk mendorong komunitas tempat mereka berada untuk menjadi lebih baik serta bernalar kritis. Di tengah impitan ekonomi yang makin sulit, para haji memiliki tugas untuk menjaga masyarakat agar tidak terjerumus ke dalam tindakan yang melanggar hukum. 

Daya nalar serta sikap kritis para haji hendaknya bisa digunakan untuk mengkritisi kekuasaan yang jika dianggap melenceng dari khitah yang telah dirumuskan para pendiri bangsa. 

Para haji yang baru saja pulang dari Tanah Suci hendaknya mampu mengimplementasikan kemabrurannya dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian sosial terhadap sesama merupakan bentuk kemabruran yang paling hakiki, terutama dalam rangka mengentaskan orang-orang yang kurang beruntung. 

Para haji diharapkan bisa menyeimbangkan antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial dalam kehidupan sehari-hari. 

Ibadah haji hendaknya jangan semata-mata sebuah ritual untuk memenuhi rukun Islam. Lebih dari itu, ibadah haji merupakan sarana untuk mengubah perilaku individu menjadi lebih baik dan lebih peduli terhadap masyarakat. 

Insya Allah kepulangan para haji dari Tanah Suci menjadi modal besar untuk menjadikan Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur

Indonesia sebagai negeri yang baik, subur, makmur, dan aman, dengan penduduk yang senantiasa bersyukur, beriman, dan beramal saleh sehingga mendapatkan ampunan dan rida dari Allah SWT. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: