IHSG Tertekan Hebat, IPOT Imbau Investor Hindari 'Averaging Down' Agresif

IHSG Tertekan Hebat, IPOT Imbau Investor Hindari 'Averaging Down' Agresif

Sempat menguat tajam sebanyak 13,07 poin atau 0,22 persen ke level 5.899,26, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melesat turun pada penutupan sesi I perdagangan, Kamis, 11 Juni 2026-Bianca Khairunisa/Disway.id-

JAKARTA, HARIAN DISWAY – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat setelah mencatatkan koreksi tajam sebesar -8,69 persen dalam sepekan perdagangan periode 2-5 Juni 2026. 

Menanggapi situasi ini, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) mengimbau para investor untuk menahan diri dan menghindari strategi averaging down secara agresif.  

Equity Analyst IPOT, Hari Rachmansyah, mengungkapkan bahwa anjloknya performa IHSG dipicu oleh akumulasi sentimen negatif yang datang bersamaan dari berbagai arah.  

Menurut Hari, kombinasi tiga faktor utama berikut menjadi pemicu derasnya aliran modal keluar (outflow) yang sulit diimbangi oleh dana domestik. Keputusan FTSE mengeluarkan saham-saham berkapitalisasi besar seperti DSSA, GOTO, dan NCKL tanpa adanya penambahan saham baru memicu aksi jual paksa (forced selling). Hal itu mempercepat arus keluar modal asing hingga menembus net foreign sell sebesar Rp 7,4 triliun di pasar reguler.  

Sementara itu, rilis data inflasi domestik per Mei 2026 tercatat berada di angka 3,08 persen yoy telah melampaui konsensus pasar. Pelemahan Rupiah telah menembus level psikologis baru di angka Rp 18.000 per Dolar AS. Kondisi tersebut mengonfirmasi bahwa aksi outflow tidak hanya melanda pasar ekuitas, tetapi juga pasar obligasi.  

BACA JUGA:IHSG Sempat Anjlok Parah ke Level Terendah, Analis IPOT Bocorkan Rekomendasi Saham Pekan Ini

BACA JUGA:IPOT: Pasar Saham Masih dalam Fase Bearish, Volatilitas Pekan Ini Masih Tinggi

"Secara fundamental, IHSG masih berada dalam tekanan yang cukup berat memasuki pekan 8–12 Juni 2026. Total net foreign sell year to date (ytd) yang telah mencapai Rp 60,8 triliun mencerminkan terjadinya erosi kepercayaan investor secara sistemik," ujar Hari Senin, 8 Juni 2026.  

Tekanan terhadap pasar modal dalam negeri juga diperparah oleh kondisi Wall Street yang mengalami aksi jual signifikan pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026. Indeks Nasdaq Composite memimpin pelemahan sebesar -4,18 persen ke level 25.709. Menjadikan koreksi harian terburuk sejak turbulensi tarif April 2025.  

Pelemahan ini dipicu oleh sektor semikonduktor menyusul kegagalan Broadcom menaikkan proyeksi cip AI-nya. Kondisi itu semakin diperberat oleh rilis data Non-Farm Payroll (NFP) AS yang melonjak ke angka 172.000 atau jauh di atas konsensus 80.000). Sehingga menaikkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed di akhir tahun hingga 72,7 persen. 

Di sisi lain, pasar juga tengah bersiap menghadapi rencana IPO raksasa SpaceX di Nasdaq pada 12 Juni mendatang dengan target pendanaan USD 75 miliar. Rencana ini memicu sebagian investor melakukan likuidasi posisi pada saham teknologi global demi mengamankan likuiditas.  

Menghadapi pekan krusial 8-12 Juni yang dibayangi rilis data ekonomi penting global dan domestik, IPOT menyarankan investor untuk menerapkan strategi bertahan (defense first). Investor diminta memprioritaskan preservasi modal dan mengurangi porsi pada saham-saham small-mid cap yang likuiditasnya tipis.  

"Bagi investor jangka menengah, manfaatkan momentum ini untuk selektif mencermati saham-saham big caps di sektor perbankan dan consumer staples yang valuasinya sudah sangat atraktif secara historis, namun tetap masuk secara bertahap," tambah Hari. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: