Bidan RSUD Besuki Dimakamkan di Desa Blitok: Solusi Hadapi Penderita Sindrom Othello

Bidan RSUD Besuki Dimakamkan di Desa Blitok: Solusi Hadapi Penderita Sindrom Othello

ILUSTRASI Bidan RSUD Besuki Dimakamkan di Desa Blitok: Solusi Hadapi Penderita Sindrom Othello.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Kedua, mengurangi kesenjangan nilai pasangan. Kecemburuan ekstrem sering kali dipicu rasa minder pelaku. Yakni, pria merasa mate value (nilai dirinya sebagai pasangan) jauh lebih rendah daripada istrinya. 

Maka, pria tersebut merasa tidak aman. Sebab, takut istrinya akan mencari pria lain yang lebih baik. 

Solusinya, meningkatkan harga diri dan mate value sang pria secara positif. Misalnya, melalui pencapaian pribadi atau karier. Serta, mengurangi ketergantungan emosional yang tidak sehat terhadap istri maupun ortu si pria.

Ketiga, menghilangkan taktik mate retention pelaku yang kasar. Pria dengan sindrom Othello punya taktik mate retention (mempertahankan pasangan) yang destruktif, seperti kekerasan verbal (ucapan yang menyakiti hati pasangan), pengawasan ketat, atau isolasi sosial. 

Nah, intervensi psikologis harus memaksa pria tersebut menyadari bahwa taktik itu justru meningkatkan risiko runtuhnya hubungan. Makin keras ia menyakiti hati pasangan, makin mungkin hubungan suami-istri itu putus. 

Pria tersebut harus diajari taktik mempertahankan pasangan yang positif. Misalnya, pemenuhan kebutuhan emosional dan pemberian insentif dalam hubungan.

Keempat, jika tiga langkah itu gagal, harus dilakukan pemisahan fisik antara suami dan istri. Supaya istri aman dari kemungkinan pembunuhan.

Mengingat otak manusia dirancang untuk membunuh saat dipicu oleh kedekatan fisik saat konflik, memisahkan istri dari jangkauan suami adalah langkah preventif paling krusial. Korban harus diamankan ke lingkungan yang tidak bisa diakses pelaku guna mematikan stimulus visual yang bisa memicu kemarahan impulsif calon pelaku.

Kelima, penggunaan kontrol sosial dan hukum. Manusia purba enggan membunuh jika biayanya dirasa terlalu tinggi (seperti risiko diasingkan atau dibunuh balik oleh kelompok). 

Akhirnya, potensi pembunuhan dapat dicegah dengan memperkuat hambatan eksternal. Melibatkan keluarga besar, penegak hukum, dan komunitas sosial seperti kelompok pertemanan, untuk mengawasi pria tersebut akan mengirimkan sinyal kuat ke otaknya, bahwa konsekuensi dari tindak kekerasan akan sangat menghancurkan dirinya sendiri.

Repotnya, istri yang suaminya pengidap sindrom Othello, pasti si istri dilarang suami berteman. Gerak istri dibatasi ekstrem, seperti pada kasus pembunuhan Rafika.

Maka, di sini peran keluarga besar si istri sangat penting. Keluarga besar harus secepatnya mengintervensi sebelum terjadi pembunuhan. Atau sebaliknya, si istri memberi tahu keluarga besar agar segera intervensi. Sebelum semuanya terlambat. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: