In Memoriam Pakar Arsitektur dan Tata Kota Prof. Ir. Johan Silas (1): Pemikir yang Berharmoni dengan Surabaya
MENULARKAN ILMU kepada mahasiswa tak pernah dilakukan setengah-setengah oleh Prof. Ir. Johan Silas. Ia adalah pakar yang tidak pelit berbagi.-Boy Slamet-Harian Disway
Prof. Ir. Johan Silas tidak menyebut dirinya arsitek, perencana, atau akademisi. Guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) serta pakar bidang arstitektur lanskap dan tata kota itu menyebut dirinya "penyanyi" yang menjadi bagian dari harmoni sosial.
(Freek Colombijn - "I Am a Singer": A Conversation with Johan Silas, Architect and Urban Planner in Surabaya)
SURABAYA kehilangan tokoh besar pada Senin dini hari, 8 Juni 2026, pukul 03.24 WIB. Prof. Ir. Johan Silas yang merupakan penggagas arsitektur dan pembangunan permukiman kampung, berpulang. Beliaulah yang sejak kepemimpinan Wali Kota Kolonel Soekotjo diminta urun rembug tentang pembangunan dan perkembangan kota Surabaya.
Jutaan warga Surabaya mungkin tidak pernah mengenal Johan secara langsung. Namun, mereka ikut merasakan manfaat dari gagasan-gagasannya. Tepatnya, lewat Kampung Improvement Program (KIP).
Itu merupakan program perbaikan kampung di Surabaya yang diterapkan melalui pendekatan pembangunan kota yang menempatkan warga sebagai subjek, bukan objek pembangunan.
BACA JUGA:Johan Silas: Pelestarian Cagar Budaya di Surabaya itu Penting
Ketika banyak kota di dunia memilih menggusur permukiman rakyat demi modernisasi, Johan menawarkan jalan berbeda. Yakni, memperbaiki kampung tanpa menghilangkan kehidupan sosial yang telah tumbuh di dalamnya.
Johan membangun paradigma bahwa kampung bukan masalah yang harus disingkirkan, melainkan aset kota yang harus ditingkatkan kualitas lingkungannya. Maka, yang terjadi kemudian adalah perbaikan jalan kampung, drainase, sanitasi, dan fasilitas umum.
Dalam rangkaian pembangunan itu, masyarakat setempat pun terlibat aktif, sehingga tumbuh rasa memiliki dan semangat keberlanjutan.
Pendekatan ini kemudian menjadi rujukan nasional bahkan mendapat pengakuan internasional sebagai salah satu model penataan permukiman berbasis masyarakat yang berhasil. Warisan terbesar Johan bukanlah bangunan fisik yang berdiri kokoh, melainkan keyakinan bahwa pembangunan harus memanusiakan manusia.
BACA JUGA:Anak-Anak Putat Jaya Belajar Menjadi Arsitek Tata Kota, Ditemani Dosen dan Mahasiswa Petra

PROF. IR. JOHAN SILAS berpulang dalam usia 90 tahun pada Senin, 8 Juni 2026. Ia mewariskan prinsip pembangunan yang memanusiakan manusia di Kota Surabaya.-Boy Slamet-Harian Disway
Biografi yang Tertunda
Akhir Januari 2026 lalu, saya sepakat untuk membuat biografi beliau, bertepatan dengan peringatan ke-90 ulang tahunnya pada 24 Mei. Namun, karena alasan kesehatan, beliau menundanya.
"Mas Kemi, nanti kita janjian untuk ketemuan lagi. Saya masih diminta beristirahat oleh dokter setelah tadi malam kontrol," ucapnya waktu itu.
Rencananya, biografi itu akan berisi perjalanan intelektual beliau, tentang bagaimana pendidikan membentuk kepekaan, bagaimana kota menjadi medan etika, bagaimana kampung hadir sebagai pusat makna, dan bagaimana pengetahuan diwariskan melalui sikap, bukan semata-mata melalui konsep.
Melalui biografi itu, beliau tidak akan mengajak pembaca untuk mencari jawaban final tentang kota, melainkan untuk mengikuti sebuah lagu panjang. Lagu tentang kehidupan bersama, yang hanya dapat bertahan jika dinyanyikan dengan kesadaran, kesabaran, dan rasa saling menjaga.
BACA JUGA:Untag Surabaya dan Kasetsart University Wujudkan Kemandirian Menyeluruh di Kampung Maspati
BACA JUGA:Juara Surabaya Tourism Awards 2026: Kampung Ketandan Jadikan Wisatawan Agen Promosi
Saya sudah berinteraksi dengan beliau sejak lama, dari mulai berstatus mahasiswa sampai kemudian menjadi wartawan.
Beliaulah yang mendorong saya membikin Rubrik Sambang Kampung di media tempat saya bekerja. Rubrik itu berisi asal-usul dan sejarah nama-nama kampung di Surabaya.
Humanis sejak Muda
Prof. Ir. Johan Silas memasuki dunia arsitektur pada saat kota-kota Indonesia sedang membentuk wajah barunya. Mengenyam pendidikan di ITB tidak membuatnya puas hanya pada penguasaan teknik. Sejak awal, ia lebih tertarik pada "pelajaran" di luar kelas. Yaitu, kehidupan sehari-hari kota dan manusia yang mengisinya.
Johan tiba di Surabaya pada 1965. Ketika itu, ia datang sebagai pendidik muda yang belajar membaca kota. Dari ruang kelas hingga kampung-kampung kota, dari meja perencanaan hingga percakapan dengan warga, ia perlahan membentuk cara pandang yang kelak menjadikannya salah satu suara penting dalam sejarah perencanaan kota di Indonesia dan juga kota lain di dunia.
BACA JUGA:Juara Surabaya Tourism Awards 2026: Kampung Legenda Tampilkan Wajah Asli Surabaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: