Pembunuhan Motif Begal di Banyuasin Dirancang Sejoli: Efek Asmara Maut
ILUSTRASI Pembunuhan Motif Begal di Banyuasin Dirancang Sejoli: Efek Asmara Maut. -Arya/AI-Harian Disway -
Jelasnyi, pembunuh menyamarkan tindakannya seolah-olah perampokan. Polisi bakal terkecoh.
Menurut teori Pettler, polisi menggunakan beberapa pilar analisis untuk mengungkap kebenaran di balik taktik penjahat model itu:
Pertama, analisis viktimologi. Langkah pertama polisi bukanlah melihat kendaraan korban yang hilang, melainkan menganalisis kehidupan korban.
Viktimologi memeriksa riwayat hidup, kepribadian, dan rutinitas korban. Jika korban orang biasa yang tidak punya musuh, tidak membawa barang mewah bernilai tinggi, atau tidak bepergian di area rawan, ”perampokan acak di jalanan” menjadi janggal.
Dalam kasus ini, pelaku pasti mengintai korban. Juga, mengetahui rute perjalanan korban pada detik-detik menjelang pembunuhan.
Kedua, inkonsistensi bukti fisik versus perilaku kriminal. Pettler menekankan konsep behavioral consistency (konsistensi perilaku).
Perampok jalanan asli bertindak cepat, impulsif, dan tujuannya adalah harta, bukan nyawa korban. Pembunuhan biasanya terjadi karena korban melawan.
Jika autopsi menunjukkan korban dibunuh dengan sangat efisien, dieksekusi dari jarak dekat, atau mengalami luka yang menunjukkan ”kemarahan personal” (overkill), ini adalah bendera merah.
Pelaku mencuri kendaraan korban hanya taktik sekunder untuk mengalihkan perhatian polisi. Dengan begitu, polisi akan melacak ke arah para residivis begal. Menyimpang jauh dari keberadaan pelaku sebenarnya.
Ketiga, indikator manipulasi di TKP. Polisi terlatih mencari ketidaksesuaian di lapangan. Dalam staged robbery, pelaku sering kali bertindak ”terlalu rapi” atau justru ”terlalu berlebihan” agar triknya terlihat meyakinkan.
Pettler menjelaskan bahwa pelaku staging sering kali meninggalkan petunjuk palsu yang justru kontradiktif.
Misalnya, jika kendaraan dicuri, tetapi dompet atau barang berharga lain korban ditinggalkan. Atau, jika lokasi pembunuhan dipilih di tempat yang membutuhkan perencanaan matang, polisi akan tahu bahwa itu bukan perampokan spontan.
Keempat, lingkaran hubungan. Buku tersebut mengulas bahwa staging hampir selalu dilakukan seseorang yang memiliki hubungan interpersonal dengan korban (keluarga, pasangan, atau rekan bisnis) karena mereka memiliki motif kuat dan memahami rutinitas korban.
Begitu polisi mencium bau staging, fokus investigasi akan langsung bergeser dari ”mencari perampok jalanan anonim” menjadi ”memeriksa orang-orang terdekat korban” yang memiliki motif eliminasi.
Pettler menegaskan, pelaku mungkin bisa memanipulasi benda-benda di TKP, tetapi mereka tidak bisa memanipulasi hukum fisika, ilmu forensik, dan logika perilaku manusia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: