Tanjung Perak untuk Simpul Asia
ILUSTRASI Tanjung Perak untuk Simpul Asia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
TANJUNG PERAK bukan sekadar pelabuhan tempat barang berpindah dari kapal ke truk. Tata kelola rantai pasok komoditas di Indo-Pasifik telah pelabuhan menjadi simpul geoekonomi yang strategis.
Melalui Rencana Strategis ASEAN Economic Community (AEC) 2026–2030, negara-negara di Asia Tenggara meluncurkan strategi integrasi ekonomi lima tahun yang menekankan konektivitas, harmonisasi standar, dan penguatan rantai pasok.
Namun, di sisi lain, UNCTAD melalui Laporan Review of Maritime 2025 memperkirakan pertumbuhan perdagangan maritim melambat di angka 0,5 pada 2025 yang mana turun tajam dari pertumbuhan sebesar 2,2 persen pada 2024.
Di saat yang sama, Jawa Timur tetap menjadi mesin penting bagi perekonomian nasional. BPS mencatat ekspor Jawa Timur pada Januari–April 2026 sebesar USD8,52 miliar, naik 2,57 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
BACA JUGA:Karantina Jatim Gagalkan Penyelundupan Burung Dilindungi di Tanjung Perak
BACA JUGA:Bea Cukai Temukan Barang Ilegal China di Jalur Merah Tanjung Perak
Namun, perlu dicatat bahwa impor juga meningkat dan neraca dagang mencatat defisit USD1,87 miliar. Angka itu menunjukkan bahwa Surabaya berdiri di tengah arus perdagangan yang hidup sekaligus dalam fondasi rapuh dan rentan akan guncangan geoekonomi.
Karena itu, Tanjung Perak layak dipandang lebih serius daripada sekadar infrastruktur logistik.
Dalam fitch ratings oleh Pelindo, pelabuhan itu konsisten berada di posisi kedua dalam kontribusi throughput peti kemas dengan angka di kisaran 20 persen yang mana sejalan dengan posisi Jawa Timur sebagai salah satu basis ekonomi regional terbesar di Indonesia. Tanjung Perak bukan pinggiran, ia adalah gerbang strategis.
Globalisasi ke Geoekonomi
Perubahan terbesar hari ini datang dari cara dunia memandang perdagangan. Pada 2024, tercatat ekspor Tiongkok ke ASEAN mencapai 15,6 persen dari total ekspornya, melampaui pangsa ke Amerika Serikat dan Uni Eropa. Bagi banyak manufaktur Asia Tenggara, arus itu bukan sekadar peluang, melainkan juga tekanan baru akibat limpahan produk murah dan relokasi rantai pasok.
Di sisi lain, ASEAN membaca perubahan itu dengan lebih sistematis. Dengan adanya rencana strategis ekonomi lima tahun, ASEAN menerapkan adanya standardisasi perdagangan, konektivitas transportasi, dan penguatan rantai pasok sebagai prioritas utama di kawasan.
BACA JUGA:Polres Tanjung Perak Ungkap Jaringan Pengedar Sabu di Wonosari Surabaya
BACA JUGA:Polda Jatim Bongkar Penyelundupan Komodo di Tanjung Perak, Enam Tersangka Diamankan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: