Lumbung Energi yang Kehabisan Bensin

Lumbung Energi yang Kehabisan Bensin

ILUSTRASI Lumbung Energi yang Kehabisan Bensin.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PERJALANAN perdana saya menikmati magisnya bumi Borneo seketika runtuh, ternodai oleh pemandangan antrean BBM yang amat tragis. Pemandangan jalur jalan yang lumpuh karena tertutup oleh kendaraan roda enam dan roda empat hingga ratusan meter menjadi pemandangan akrab di berbagai SPBU di Kalimantan Tengah sampai pertengahan Juni ini. 

Mulai Palangka Raya, Sampit, hingga Pangkalan Bun, jeritan para sopir truk logistik, pengendara roda dua, dan pelaku usaha kecil terdengar serupa: BBM langka, waktu habis di jalan, dan harga di tingkat eceran melambung tak karuan.

Seperti biasa, otoritas terkait sibuk berlindung di balik tameng klasik: keterlambatan pasokan akibat faktor cuaca atau kuota daerah yang jebol. Namun, mengurai sengkarut ini hanya dari kacamata angka kiloliter distribusi atau disparitas harga adalah sebuah penyederhanaan yang naif. 

Kelangkaan BBM di bumi Borneo bukan sekadar perkara teknis logistik atau kalkulasi matematis di atas kertas Pertamina. Ini adalah potret telanjang dari ketimpangan struktural dan ironi akut sebuah wilayah yang dikuras kekayaannya, tetapi dipaksa mengemis untuk mendapatkan hak energi paling dasar.

BACA JUGA:Pelindo Marine Siagakan Kapal Tunda Jayanegara 401 di Lumbung Energi Nusantara

BACA JUGA:Rahasia Irit Bensin saat Macet, Pengendara Motor Matic Wajib Tahu!

Paradox of Plenty di Tanah Borneo

Kalimantan Tengah bukanlah daerah miskin yang papa. Provinsi itu adalah salah satu raksasa penyumbang devisa negara melalui jutaan ton batu bara yang dikeruk setiap tahun dan hamparan hijau perkebunan kelapa sawit yang tak bertepi. 

Namun, kekayaan alam yang melimpah itu justru melahirkan paradox of plenty, sebuah kutukan kelimpahan yang menyakitkan bagi warga lokal. Tanah tersebut kaya, tetapi rakyatnya kepayahan.

Bagaimana mungkin sebuah daerah yang menjadi generator energi bagi industri nasional dan global justru harus menyaksikan warganya mengantre berhari-hari demi seliter solar atau Pertalite? Ada ketidakadilan ruang yang nyata di sini. Truk-truk raksasa milik korporasi besar hilir mudik dengan gagah mengeruk komoditas bumi Kalteng. 

Sementara di sisi jalan yang sama, truk-truk logistik lokal yang mengangkut bahan pangan rakyat harus tiarap, mesinnya mati menanti kepastian pasokan yang tak kunjung datang. Itu adalah ironi di mana ”darah” bagi kendaraan pengangkut kekayaan alam mengalir lancar, sementara ”nadi” ekonomi rakyat lokal tersumbat total.

BACA JUGA:Adu Hemat Biaya Servis Motor Listrik vs Motor Bensin dalam 1 Tahun

BACA JUGA:Subsidi Menyusut, Penjualan Mobil Listrik di Tiongkok Tertekan: Bisa Kembali ke Bensin…?

Ketika kuota subsidi daerah dibatasi dengan alasan penghematan APBN, pemerintah seolah menutup mata bahwa karakteristik geografis Kalteng sangat unik. Roda ekonomi di sana sangat bergantung pada jalur darat yang panjang, membelah hutan, dan menantang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: