Libur Sekolah Bikin Program MBG Berhenti, 160 Ribu Relawan Disebut Kehilangan Penghasilan
Para relawan di SPPG Jombang mengaku program MBG membantu memenuhi kebutuhan ekonomi mereka -Diskominfo Jember -
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (Gapembi) Jawa Timur mengeluhkan soal berhentinya pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) selama musim libur sekolah.
Libur sekolah yang berlangsung selama tiga pekan bakal berpengaruh pada nasib ribuan relawan yang bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Tak hanya itu, pinjaman perbankan pun kini menjadi ancaman pemilik SPPG lantaran tak bisa membayar angsuran lantaran tak ada kuncuran anggaran selama MBG berhenti beroperasi.
BACA JUGA:Ketua DPRD Kota Malang Amithya Dorong Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
BACA JUGA:BGN Kaji Coret Siswa SMA Mampu dari Penerima MBG, Potensi Kurangi 8 Juta Penerima Manfaat
”Puluhan ribu relawan saat ini terdampak akibat pemberian MBG berhenti sementara,” kata Ketua DPW Gapembi Jatim Makhrus Sholeh kepada Harian Disway, Rabu 24 Juni 2026.
Selama ini, proses distribusi dan pengolahan MBG dilakukan oleh para relawan. Mulai dari memasak, mencuci ompreng, hingga distribusi ke sekolah. Para relawan ini mendapat upah dari jasa mereka selama SPPG beroperasi.
Saat ini, kata Sholeh, ada 4.000 SPPG yang beroperasi di Jatim. Setiap SPPG minimal ada sekitar 40 relawan yang bekerja.
Artinya, ada sekitar 160.000 orang di Jatim yang menggantungkan penghasilan dari jasa ekosistem MBG ini. ”Dan otomatis, selama SPPG tak beroperasi karena libur, mereka tak mendapat pemasukan,” katanya.
BACA JUGA:CELIOS: Selisih Rp201 Triliun Anggaran MBG, Benarkah untuk Atasi Stunting?
BACA JUGA:Cuma Emak-Emak yang Sukses Rebut Bundaran HI, Long March Desak Pemerintah Hentikan Program MBG
Tak hanya relawan, pemilik SPPG, kini juga sedang kalang kabut memikirkan membayar cicilan. Sebab, mayoritas pemilik SPPG di Jatim adalah pengusaha kecil dengan modal terbatas. Sehingga saat membangun dapur di SPPG, mereka meminjam uang ke bank secara patungan.
Tanpa pemasukan selama tiga pekan ini, nasib mereka pun kini tak jelas. ”Cicilan mereka banyak yang mandek. Ini yang perlu dipikirkan oleh pemerintah. Kami butuh solusi yang win win solutions,” kata Sholeh.
Sholeh juga ingin mengklarifikasi soal isu yang beredar di media sosial bahwa pemilik SPPG ingin terus mencari untung dari program MBG. Sebab, menurutnya pengusaha yang ikut turun dalam program MBG ini murni sebagai upaya membantu merealisasikan program pemerintah.
Ia pun menyebut, dengan menggandeng mitra, pemerintah bisa hemat ratusan triliun dalam program MBG. Misalnya soal pembangunan dapur. Yang selama ini dibiayai penuh oleh mitra. Setiap dapur SPPG lengkap dengan operasionalnya membutuhkan biaya sekitar Rp 4 miliar. ”Kami ini membantu program pemerintah,” tegasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: