Public Speaking: Soft Skill yang Tak Lagi Bisa Diabaikan
PESERTA BBK 8 Internasional Unair mengikuti latihan public speaking bersama Kaya Toastmasters di Rod Evans Community Centre, Perth, 24 Juli 2026. -Dok Peserta BBK 8 Internasional-
SEBAGAI MAHASISWA, kami sering merasa kemampuan berbicara di depan publik baru dibutuhkan ketika harus melakukan presentasi besar, mengikuti sidang, atau memasuki dunia kerja. Pengalaman mengikuti lokakarya bersama Kaya Toastmasters di Perth mengubah cara pandang kami.
Public speaking bukan sekadar kemampuan berdiri di depan banyak orang. Ia adalah keterampilan menyusun pikiran, menyampaikan gagasan dengan jelas, membangun kepercayaan, dan membuat orang lain memahami mengapa sebuah pesan penting.
Pada 24 Juli 2026, kami, peserta BBK 8 Internasional Universitas Airlangga yang menjalankan program di The University of Western, Australia, mengikuti workshop public speaking di Rod Evans Community Centre.
Kegiatan itu menjadi pengalaman belajar berkesan karena kami tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung berlatih, melakukan kesalahan, memperoleh evaluasi, lalu mencoba kembali dengan cara yang lebih baik.
BACA JUGA:Public Speaking, Keterampilan yang Wajib Dikuasai di Era Digital
BACA JUGA:Belajar Public Speaking dari Gita Wirjawan, dr Fahrudin, dan Raditya Dika
Lokakarya difasilitasi Kaya Toastmasters, komunitas pengembangan komunikasi dan kepemimpinan yang lahir dari inisiatif generasi muda serta profesional Indonesia di Perth. Gagasan pembentukannya digerakkan oleh Agata Nisianti Dharma, yang dikenal sebagai Agata Dharma, bersama jejaring Indonesian Chamber of Commerce Western Australia dan Toastmasters District 17.
Dari kebutuhan lokal untuk menciptakan ruang latihan bilingual dalam bahasa Indonesia dan Inggris, Kaya berkembang menjadi klub resmi yang terhubung dengan Toastmasters International, jaringan pembelajaran komunikasi yang mendunia.
Bagi kami, kisah tersebut menunjukkan bahwa komunitas diaspora bukan hanya tempat berkumpul, melainkan juga ruang belajar produktif.
Komunitas Indonesia di Perth terasa erat, saling mendukung, dan aktif menciptakan kegiatan yang mempertemukan mahasiswa, profesional, pelaku usaha, akademisi, serta masyarakat umum. Kaya Toastmasters menjadi contoh bagaimana kedekatan komunitas dapat diterjemahkan menjadi program yang memberi manfaat nyata.
BACA JUGA:4 Cara Jitu Menguasai Public Speaking
BACA JUGA:KKN di Mojokerto, Mahasiswa Untag Paparkan Pentingnya Public Speaking
Kaya menyediakan kesempatan belajar melalui pertemuan komunitas, sesi latihan, lokakarya, dan program pengembangan. Sebagian kegiatan dapat dikunjungi secara gratis sebagai tamu, sedangkan keanggotaan atau pelatihan tertentu tersedia secara berbayar.
Model itu membuat pembelajaran lebih inklusif: pemula dapat mengenal suasananya terlebih dahulu, sementara peserta yang ingin berkembang konsisten dapat mengikuti program lebih terstruktur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: