Dunia Lebih Lebar daripada Bingkai AI: Melawan Kelatahan Tekno-Pragmatisme
ILUSTRASI Dunia Lebih Lebar daripada Bingkai AI: Melawan Kelatahan Tekno-Pragmatisme.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BEBERAPA hari lalu, beberapa surat kabar dari luar negeri seperti South China Morning Post (SCMP) memberitakan bahwa pemerintah Tiongkok telah dan akan menutup sekitar 12 ribu jurusan atau program studi (prodi) perguruan tinggi yang dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman saat ini.
Program studi yang ditutup tersebut mencakup bidang-bidang yang terkait dengan desain, teknik, dan sains, seperti teknik elektro, karena dianggap sudah tidak relevan dan bisa digantikan kecerdasan artifisial (AI).
Namun, tampaknya, rumpun humaniora seperti seni dan bahasa asing adalah rumpun yang paling rawan dan paling banyak ditutup. Surat kabar lain, The Independent, dari Inggris memberitakan bahwa hampir sepertiga total jumlah universitas di Tiongkok dan jutaan mahasiswa terdampak oleh keputusan itu.
Tidak bisa dimungkiri, hal tersebut dilakukan oleh pemerintah Tiongkok untuk mengatasi dampak dari makin banyaknya lulusan perguruan tinggi di negara tersebut yang menganggur dan tentu saja untuk mengantisipasi perubahan zaman yang kian cepat karena makin hebatnya kemampuan AI.
Demi mengejar supremasi dan penguasaan mutlak terhadap AI, semikonduktor, dan kuantum komputasi, apakah keputusan itu bisa dianggap seakan-akan manusia sedang diprogram ulang untuk menjadi sekadar sekrup penggerak mesin ekonomi digital?
Juga, apakah keputusan untuk menutup prodi-prodi bahasa asing menandakan bahwa Tiongkok merasa mahasiswa sudah tidak perlu susah payah lagi belajar ilmu-ilmu humaniora, termasuk bahasa asing, karena sudah bisa digantikan AI dengan sangat baik?
Sebagai seorang pengajar bahasa Inggris di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, saya merenung cukup lama setelah membaca berita tersebut.
Ada semacam kilas balik puluhan tahun lalu, saat saya memutuskan memilih jurusan bahasa Inggris karena minat saya di bahasa tersebut dan bagaimana kami, para mahasiswa, belajar kebanyakan hanya dari buku-buku, siaran TV, dan video saja karena belum ada internet atau bahkan AI pada saat itu.
Saya melemparkan pandangan ke luar jendela ruang prodi dan melihat para mahasiswa sedang berjalan beriringan, tertawa, dan sesekali menatap layar gawai mereka.
Ada rasa hangat sekaligus kecemasan yang merayap: apakah esok hari, anak-anak muda yang penuh dengan idealisme, minat, rasa ingin tahu, dan keunikan preferensi mereka masing-masing itu akan dipaksa tunduk pada satu ukuran seragam bernama efisiensi yang diciptakan oleh algoritma AI?
Bagi Indonesia, sebuah negara yang kerap dijangkiti sindrom ”latah kebijakan”, hal yang dilakukan Tiongkok itu adalah alarm yang cukup berbahaya. Jika kita tidak berhati-hati, gelombang tekno-pragmatisme tersebut akan juga melindas ruang-ruang refleksi kita.
Kita akan tergesa-gesa membakar kurikulum humaniora hanya karena silau oleh angka-angka produktivitas digital. Seperti yang juga sudah kita ketahui, pemerintah kita, melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemendikti Ristek), sempat melontarkan wacana yang serupa, yaitu menutup banyak jurusan yang dianggap sudah tidak relevan dengan zaman, walaupun keputusan tersebut akhirnya dibatalkan.
Tampaknya, ada satu kebenaran fundamental yang mulai terlupakan di era disrupsi ini: dunia kita, ruang hidup kebahasaan dan kebudayaan kita, serta bentang batin kemanusiaan kita jauh lebih lebar, lebih dalam, dan lebih berwarna daripada sekadar kalkulasi probabilitas mesin komputer yang paling canggih sekalipun saat ini.
Reduksi Makna dan Kosmologi Bahasa
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: