Kini Ijazah Tak Lagi Cukup
ILUSTRASI Kini Ijazah Tak Lagi Cukup.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Selama ini hubungan antara perguruan tinggi dan industri sering dibungkus dalam narasi besar: link and match, kerja sama strategis, magang, kelas industri, kurikulum berbasis kompetensi, hingga hilirisasi riset. Semua itu tentu penting.
Namun, dalam praktiknya, jembatan antara kampus dan industri sering kali masih terlalu panjang, terlalu formal, dan terlalu lambat. Perubahan kurikulum bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun, sementara kebutuhan industri dapat berubah jauh lebih cepat.
Karena itu, pendidikan tinggi membutuhkan instrumen yang lebih lincah. Salah satunya adalah microlearning dan microcredential. Microlearning dapat dipahami sebagai pendekatan pembelajaran dalam unit-unit kecil, fokus, dan langsung mengarah pada keterampilan tertentu.
BACA JUGA:Ijazah Palsu, Teori Konspirasi Pulling the Thread
Materinya tidak harus seluas satu mata kuliah penuh. Ia dapat berupa satu modul. Misalnya, tentang analisis data dasar, satu paket praktik penggunaan kecerdasan buatan untuk riset, satu topik keselamatan kerja laboratorium, satu kompetensi digital marketing, satu keterampilan komunikasi profesional, atau satu kemampuan teknis yang sedang dibutuhkan industri.
Kekuatan microlearning terletak pada kelincahannya. Ia memungkinkan mahasiswa belajar sesuatu secara lebih cepat, fokus, dan kontekstual. Mahasiswa tidak harus menunggu satu semester untuk mendapatkan satu keterampilan spesifik.
Dosen juga dapat merancang pengalaman belajar yang lebih tajam: mahasiswa belajar apa, berlatih apa, menghasilkan bukti apa, dan bagaimana capaian itu dinilai.
Namun, pembelajaran yang ringkas saja tidak cukup. Kompetensi yang diperoleh perlu diakui. Di sinilah microcredential menjadi penting. Namun, microcredential bukan sekadar sertifikat pendek. Dengan kata lain, microcredential bukan sekadar sertifikat ikut pelatihan. Ia harus membuktikan tentang capaian, punya standar dan harus bisa dipercaya.
Dengan begitu, microcredential mampu menjawab pertanyaan yang sering muncul dari dunia kerja: lulusan ini bisa apa? Pernah mengerjakan apa? Menguasai alat apa? Mampu menyelesaikan persoalan seperti apa? Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali tidak cukup dijawab oleh nama program studi atau nilai indeks prestasi. Dunia kerja membutuhkan bukti yang lebih konkret.
Microcredential Adalah Jembatan Kemajuan
Bagi mahasiswa, microcredential dapat menjadi portofolio kompetensi. Mereka tetap membutuhkan ijazah, tetapi ijazah dapat dilengkapi dengan bukti-bukti kemampuan yang lebih spesifik.
Seorang mahasiswa komunikasi, misalnya, tidak hanya membawa gelar sarjana, tetapi juga memiliki microcredential dalam produksi konten digital, analisis media sosial, penulisan naskah kampanye, atau manajemen komunikasi krisis.
Seorang mahasiswa teknik tidak hanya membawa transkrip akademik, tetapi juga bukti kompetensi dalam desain berbasis perangkat lunak tertentu, manajemen proyek, keselamatan kerja, atau teknologi ramah lingkungan.
Bagi perguruan tinggi, microcredential dapat menjadi ruang inovasi. Kampus tidak harus selalu menunggu perubahan kurikulum besar untuk merespons kebutuhan baru. Kampus dapat mengembangkan unit-unit pembelajaran kecil yang relevan dengan perkembangan zaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: