Kini Ijazah Tak Lagi Cukup
ILUSTRASI Kini Ijazah Tak Lagi Cukup.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Microcredential juga dapat dikembangkan dari sebagian capaian pembelajaran mata kuliah, dari kebutuhan industri, dari hasil riset dosen, atau dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Bagi industri, pendekatan itu jauh lebih mudah dibaca. Industri tidak harus langsung terlibat dalam penyusunan satu kurikulum penuh. Kolaborasi dapat dimulai dari satu kebutuhan kecil, tetapi konkret; analis data pemula, keamanan informasi, audit internal berbasis teknologi, content production, green skills, layanan pelanggan digital, atau kompetensi teknis lain yang sedang dicari oleh dunia kerja.
Dosen kemudian dapat menerjemahkan kebutuhan tersebut menjadi microcredential; modul pendek, studi kasus, proyek mini, rubrik penilaian, dan bukti hasil kerja. Industri dapat memberikan masukan terhadap standar kompetensi, menyediakan kasus nyata, menjadi penilai tamu, atau mengakui badge tertentu sebagai nilai tambah dalam proses rekrutmen.
Dengan cara itu, kerja sama kampus dan industri tidak berhenti pada MoU, tetapi juga masuk ke ruang kelas, platform pembelajaran, portofolio mahasiswa, dan sistem pengakuan kompetensi.
Lebih jauh, microcredential juga mengubah cara kita memandang peran dosen. Dosen bukan lagi hanya pengampu mata kuliah yang menyampaikan materi secara luas. Dosen perlu menjadi perancang pengalaman belajar.
Ia harus mampu memecah capaian besar menjadi unit-unit kompetensi yang lebih kecil, memilih strategi pembelajaran yang tepat, menyusun asesmen autentik, dan memastikan bahwa mahasiswa menghasilkan bukti kompetensi yang dapat dinilai.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Perubahan tersebut tentu tidak mudah.
Pertama, kesiapan dosen. Haus diakui, bahwa tidak semua dosen terbiasa merancang pembelajaran modular, asesmen berbasis bukti, atau pengalaman belajar yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri. Karena itu, pengembangan microcredential semestinya berjalan bersama dengan agenda pengembangan profesionalitas dosen.
Kedua, standar mutu. Jika tidak dijaga, microcredential dapat jatuh menjadi sekadar tren sertifikat pendek. Banyak sertifikat diterbitkan, tetapi nilainya lemah karena tidak jelas capaian belajarnya, tidak kuat asesmennya, dan tidak diakui pengguna lulusan. Itu justru berbahaya karena dapat menambah kebingungan baru dalam dunia pendidikan dan dunia kerja.
Karena itu, setiap microcredential harus memiliki standar yang jelas. Minimal harus ada capaian pembelajaran, beban belajar, metode asesmen, bukti kompetensi, kriteria kelulusan, validator, dan mekanisme penjaminan mutu. Microcredential yang baik tidak hanya cepat dan fleksibel, tetapi juga kredibel.
Ketiga, pengakuan. Microcredential baru bernilai jika dipercaya. Perguruan tinggi perlu membangun komunikasi dengan industri, asosiasi profesi, lembaga pemerintah, dan masyarakat agar microcredential benar-benar memiliki makna. Tanpa pengakuan, microcredential hanya akan menjadi miskin guna. Dengan pengakuan, ia dapat menjadi jembatan antara kampus dan dunia kerja.
Microcredential tidak menjadi pengganti gelar akademik. Gelar tetap penting karena pendidikan tinggi tidak hanya bertugas melatih keterampilan teknis, tetapi juga membentuk cara berpikir, etika, nalar ilmiah, dan kedewasaan intelektual. Namun gelar perlu dilengkapi dengan bukti kompetensi yang lebih spesifik dan mudah dipahami dunia kerja.
Masa depan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program studi, banyaknya mata kuliah yang ditempuh, atau megahnya gedung dan fasilitas kampus. Kampus yang unggul adalah kampus yang mampu menyediakan jalur belajar yang fleksibel, kredibel, relevan, inkusif dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat.
Microcredential dapat menjadi salah satu jawabannya. Ia adalah jembatan: antara mata kuliah dan kompetensi kerja, antara dosen dan praktisi, antara kurikulum dan kebutuhan industri dan antara mahasiswa dan portofolio masa depannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: