Warga Iran Kibarkan Panji Merah Tanda Balas Dendam, Poster Targetkan Trump dan Netanyahu
Warga Iran mengibarkan bendera merah "Pembalasan Dendam" dalam rangkaian pemakaman Ali Khamenei di Grand Mosalla Teheran-Mohammadhosein Movahedinejad/Tasnim News Agency -
HARIAN DISWAY - Sambil mengibarkan bendera merah dan meneriakkan seruan balas dendam, massa dalam jumlah besar yang menghadiri upacara penghormatan terakhir untuk mendiang Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, di Teheran menegaskan bahwa pembunuhan terhadap pemimpin mereka tidak akan dibiarkan tanpa jawaban.
Ribuan pelayat berkumpul di Grand Mosalla Teheran pada tanggal 4 dan 5 Juli 2026. Di lokasi tersebut, rasa duka yang mendalam berpadu dengan ikrar yang terus disuarakan untuk membalas darah pemimpin yang tewas tersebut.
Para peserta membawa bendera merah yang bertuliskan kalimat berbahasa Arab “Ya Litharat al-Hussein” (“Wahai para penuntut balas Hussein”). Tulisan ini merupakan sebuah simbol yang berakar kuat dalam tradisi Syiah, yang diasosiasikan dengan kesyahidan Imam Hussein, cucu Rasulullah di Karbala.
Secara historis, panji merah menandakan bahwa darah orang yang tidak bersalah telah ditumpahkan secara tidak adil dan keadilan belum ditegakkan. Meskipun bendera ini biasanya dikibarkan selama upacara berkabung bulan Muharram, simbol tersebut juga membawa pesan yang lebih luas tentang penegakan keadilan.
BACA JUGA:Ulama Senior Pimpin Salat Jenazah Ali Khamenei, Mojtaba Tak Tampak di Hari Kedua Prosesi
BACA JUGA:Balaskan Dendam! Teriakan Ribuan Warga Iran Iringi Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
Dalam situasi yang luar biasa, bendera merah ini melambangkan tekad bulat untuk melakukan pembalasan terhadap mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan tersebut.
Selaras dengan simbolisme tersebut, para pelayat berulang kali meneriakkan yel-yel “Balas dendam! Balas dendam!”. Sembari memberikan penghormatan terakhir, mereka juga membawa bendera Iran, foto potret mendiang pemimpin tertinggi, gambar Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam yang baru, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei, serta lambang “kepalan tangan” sebagai bentuk sumpah setia.
Setelah lima pekan pertempuran yang sengit, perang di Timur Tengah saat ini tengah ditangguhkan menyusul gencatan senjata dan kesepakatan awal yang dicapai dengan Amerika Serikat. Namun, baik Washington maupun Teheran telah memperingatkan bahwa mereka siap untuk melanjutkan aksi militer sewaktu-waktu.
"Para pembunuh (Khamenei) harus menerima hukuman," ujar seorang pria berusia 38 tahun bermarga Miremadi kepada AFP saat menghadiri salat jenazah pada hari Minggu.
BACA JUGA:Prosesi Pemakaman Resmi Ali Khamenei Dimulai, Iran Targetkan Kehadiran Hingga 20 Juta Orang
BACA JUGA:Mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Akan Dimakamkan Pada 9 Juli 2026
Ia juga menambahkan rasa skeptisnya terhadap situasi diplomatik saat ini. "Jika para pemimpin kita akan melanjutkan negosiasi dengan cara seperti ini, rakyat kita tidak akan menyetujuinya," kata Miremadi. Menurutnya, masyarakat menuntut adanya pembalasan, bukan perdamaian dan negosiasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: