Budaya Healing dan Performa Digital
ILUSTRASI Budaya Healing dan Performa Digital.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Namun, ketika kebutuhan akan ”pemulihan” bertemu dengan budaya media sosial, muncul perubahan yang menarik. Healing tidak lagi hanya menjadi pengalaman personal, tetapi juga pengalaman yang dibagikan, dipertontonkan, dan dikenali secara sosial.
Tanpa disadari, kita mulai memiliki gambaran yang hampir seragam tentang seperti apa ”healing” itu seharusnya. Ada secangkir kopi, buku yang terbuka meski belum tentu dibaca, suara ombak atau rintik hujan, langit senja berwarna jingga, perjalanan ke tempat yang tenang, atau video singkat dengan musik yang sendu.
Ungkapan seperti ”healing tipis-tipis”, ”escape sebentar”, atau ”me time” berulang kali muncul dalam lini masa kita atau digunakan sebagai tagar dalam berbagai unggahan tentang liburan.
Pengulangan simbol, bahasa, dan estetika itu perlahan membentuk pemahaman tentang bagaimana seseorang yang sedang healing seharusnya tampil. Di sinilah gagasan performativitas dari Judith Butler menjadi menarik untuk dibawa ke ruang budaya digital.
Butler (1993) menjelaskan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang sepenuhnya melekat sejak awal, melainkan dibentuk melalui tindakan-tindakan yang terus diulang hingga akhirnya tampak alami. Apa yang kita anggap sebagai identitas sering kali merupakan hasil dari praktik-praktik sosial yang terus direproduksi.
Barangkali hal yang sama sedang terjadi pada budaya healing hari ini. Kita tidak hanya melakukan healing, tetapi juga belajar bagaimana ”menampilkan” diri sebagai seseorang yang sedang healing.
Media sosial menyediakan panggung tempat simbol-simbol itu dipertunjukkan dan direproduksi. Lama-kelamaan, estetika healing menjadi bahasa budaya yang mudah dikenali.
Namun, kata ”performa” tidak harus dipahami sebagai sebuah bentuk kepalsuan. Di sinilah perspektif Diana Taylor dalam kajian performance menawarkan sudut pandang yang lebih membumi.
Performance, dalam pandangan Taylor (2016), bukanlah sekadar sebuah permainan peran atau sandiwara, melainkan cara seseorang menyampaikan pengalaman, membangun relasi, dan menampilkan dirinya di hadapan orang lain. Apa yang dipertunjukkan justru dapat menjadi medium untuk berbagi makna dan emosi.
Oleh karena itu, mengunggah foto atau video saat liburan tidak harus selalu dimaknai sebagai upaya untuk pamer atau mencari perhatian. Bagi sebagian orang, membagikan proses healing adalah cara mengatakan, ”aku sedang baik-baik saja”, atau bahkan, ”aku sedang berusaha untuk baik-baik saja”.
Di tengah kehidupan perkotaan yang makin individualis, komentar sederhana, tanda suka, atau pesan dari teman bisa menjadi bentuk perhatian sosial yang memberikan rasa nyaman. Media sosial, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi panggung, tetapi juga ruang afeksi.
Namun, ruang afeksi itu juga menyimpan paradoksnya sendiri. Ketika pengalaman makin sering dikurasi untuk konsumsi publik, batas antara menikmati dan mempertontonkan menjadi kian tipis. Tidak sedikit orang yang menghabiskan lebih banyak waktu mencari sudut pengambilan gambar terbaik daripada menikmati pemandangan indah di hadapannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: