Dari Sepak Bola ke Instrumen: Kekuatan Ekonomi Dunia

Dari Sepak Bola ke Instrumen: Kekuatan Ekonomi Dunia

ILUSTRASI Dari Sepak Bola ke Instrumen: Kekuatan Ekonomi Dunia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Musim 2023/2024 saja, total pendapatan klub-klub Premier League diperkirakan melampaui 6 miliar pounds. Industri itu menopang ratusan ribu pekerjaan di sektor hospitality, keamanan, media, transportasi, hingga UMKM sekitar stadion. Bahkan, ekonomi kota-kota kecil ikut hidup karena aktivitas pertandingan.

Jerman mengambil jalur berbeda. Bundesliga tidak sekomersial Premier League, tetapi sangat kuat secara industri. Klub-klub Jerman terkenal sehat secara finansial karena menerapkan model tata kelola ketat dan keterlibatan suporter. Klub seperti Bayern Muenchen berhasil menggabungkan performa olahraga dengan disiplin bisnis ala industri manufaktur Jerman.

BACA JUGA:Berlusconi dan Politik Sepak Bola

BACA JUGA:”Martir” Damai Sepak Bola

Sepak bola di Jerman memiliki koneksi kuat dengan industri otomotif, apparel, teknologi olahraga, dan pariwisata. Sponsor seperti Adidas, Audi, Allianz, dan Deutsche Telekom menjadikan sepak bola sebagai instrumen branding global. Finalnya bukan hanya kemenangan klub, melainkan ekspansi pengaruh ekonomi Jerman di pasar dunia.

Italia memiliki karakter berbeda lagi. Walaupun Serie A sempat mengalami penurunan jika dibandingkan dengan era 1990-an, sepak bola Italia tetap menjadi kekuatan ekonomi dan budaya. 

Klub seperti AC Milan, Juventus FC, dan Inter Milan menjual romantisme sejarah, identitas kota, dan prestise budaya Italia. Dalam ekonomi modern, identitas budaya adalah aset ekonomi. Orang membeli jersey bukan hanya kain, melainkan juga simbol status dan keterikatan emosional.

Di Brasil, sepak bola bahkan telah menjadi ”eksporter budaya”. Negara itu mungkin tidak memiliki industri teknologi sebesar Jepang atau Jerman, tetapi memiliki comparative advantage berupa talenta sepak bola. Brasil mengekspor pemain ke seluruh dunia. Transfer pemain menjadi sumber devisa ekonomi yang signifikan.

Brasil menghasilkan pemain-pemain mahal. Di era 1990-an, Brasil telah banyak ”mengekspor” talenta berbakat seperti Ronaldo Luis Nazario de Lima, Romario Faria, Kaka, dan banyak lagi. Kesinambungan talenta di bidang ”gocek bola” seakan tak pernah berhenti. 

Pada era 2000-an, superstar seperti Neymar, Vinicius Junior, hingga Rodrygo selalu menjadi magnet tontonan publik dan penggemar permainan 90 menit itu. Brasil memahami bahwa akademi sepak bola adalah investasi ekonomi jangka panjang. 

Anak-anak muda berbakat dari arena jalan raya tidak hanya dipandang sebagai calon atlet, tetapi juga sebagai aset ekonomi global di masa mendatang.

Yang menarik, Asia mulai belajar dari model tersebut. Jepang melalui J-League membangun sepak bola dengan filosofi industri nasional. Klub-klub punya koneksi kuat dengan korporasi raksasa industri seperti Mitsubishi, Nissan, atau Hitachi. 

Jepang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi olahraga yang disiplin, modern, dan terintegrasi dengan pembangunan kota.

Hasilnya terlihat jelas. Jepang kini menjadi pengekspor pemain berkualitas ke Eropa. Selain itu, industri sports tourism dan penjualan apparel olahraga berkembang pesat. Produk-produk olahraga Jepang mendapatkan legitimasi global karena keberhasilan sistem sepak bolanya. 

Demikian pula Korea Selatan, yang sukses memanfaatkan sepak bola sebagai soft power ekonomi, mirip dengan strategi industri hiburan K-pop. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: