Buddha, DJ, dan Generasi Z Korea Selatan yang Mencari Jalan Pulang
UMAT BUDDHA memenuhi Kuil Jogyesa di Esoul, 2 Juli 2026. Agama Buddha di Korea Selatan terus berupaya menarik anak-anak muda.-JADE GAO-AFP-
Sebagian peserta datang bersamaan dengan berbagai festival. Ada sesi doa bersama. Ada ruang dialog dengan para biksu. Ada pula bazar cendera mata.
Yang paling mencuri perhatian justru sebuah pesta bertajuk Heart Sutra Gong Party. Musik elektronik dan hip-hop mengalun. Di sela dentuman musik, lantunan sutra ikut menggema.
Bagi Sun Min-ji, mahasiswi berusia 23 tahun yang juga seorang Buddhis, pendekatan itu tidak keliru. "Menurut saya tidak ada yang salah dengan citra Buddhisme yang terasa lebih keren seperti ini. Justru pendekatan itu menurunkan sekat dan membuat banyak anak muda berani mendekat," ujarnya.
Namun, tidak semua orang sependapat. Sebagian kalangan khawatir agama yang selama ini mengajarkan pelepasan dari keterikatan duniawi justru terjebak dalam arus konsumtivisme.
Sebuah editorial di media Buddhis Hyunbulnews mengingatkan bahwa jika Buddhisme hanya dikonsumsi sebagai sebuah citra yang menarik, maka popularitas itu bisa saja sekadar menjadi tren sesaat.
Kegelisahan itu dipahami oleh Ordo Jogye, aliran Buddhisme terbesar di Korea Selatan. Justru kelompok itu yang menjadi motor utama perubahan tersebut.
BACA JUGA:Saat Boneka AI Menjadi Teman Sepi Lansia Korea Selatan, Karena Manusia Jarang Bilang I Love You
BACA JUGA:Meksiko vs Korea Selatan 1-0: El Tri Jadi Tim Pertama yang Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Juru bicaranya, Biksu Myojang, mengatakan cara generasi muda memaknai agama sudah berubah. Karena itu, cara agama menyapa mereka juga harus berubah.
"Kami berusaha menemui mereka di ruang yang mereka kenal dan berkomunikasi dengan bahasa yang mereka pahami," katanya.
Eksperimen itu bahkan melahirkan kontroversi lain. Pada Mei 2026, sebuah robot humanoid ikut dalam upacara penahbisan. Robot itu mengucapkan janji untuk mengabdikan diri kepada Buddhisme.
Banyak kritik bermunculan. Sebagian menilai peristiwa itu meremehkan makna kebiksuan.
Myojang menjelaskan robot tersebut hanyalah media untuk menyampaikan ajaran. Namun, ia juga mengakui perlunya batas yang lebih jelas agar inovasi tidak melampaui nilai-nilai dasar agama.
Perdebatan serupa juga mengiringi penampilan komedian yang beralih profesi menjadi DJ, Yoon Seong-ho. Ia tampil dengan nama panggung NewJeansNim. Ia mengenakan jubah biksu. Ia memadukan musik elektronik dengan lantunan doa.
Tujuannya sederhana. Ia ingin membawa nilai-nilai Buddhisme kepada masyarakat, terutama generasi muda yang mungkin tidak pernah datang ke kuil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: