Buddha, DJ, dan Generasi Z Korea Selatan yang Mencari Jalan Pulang

Buddha, DJ, dan Generasi Z Korea Selatan yang Mencari Jalan Pulang

UMAT BUDDHA memenuhi Kuil Jogyesa di Esoul, 2 Juli 2026. Agama Buddha di Korea Selatan terus berupaya menarik anak-anak muda.-JADE GAO-AFP-

Di banyak negara maju, religiusitas identik sebagai laku para generasi tua. Yang lebih muda tidak lagi peduli pada agama. Di Korea Selatan, agama Buddha seperti menyesuaikan diri untuk kaum muda itu.

DI sebuah sudut Seoul, langkah-langkah pelan menuju kuil tua berusia ratusan tahun masih terdengar. Orang-orang datang membawa persembahan. Mereka membungkuk khusyuk di hadapan tiga patung Buddha berlapis emas. Aroma dupa memenuhi udara. Suasananya tenang. Nyaris tak berubah sejak berabad-abad silam.

Namun, hanya beberapa langkah dari sana, wajah Buddhisme berubah drastis.

Sebuah toko bernama Buddhz memajang gelang tasbih, topi, kaus, hingga miniatur Buddha. Salah satu ilustrasinya memperlihatkan Buddha sedang menunduk menatap layar ponsel. Sebuah kartu pos lain menampilkan Buddha meniup gelembung permen karet. Di bawahnya tertulis kalimat santai, "Blow it. Pop it. Forget it."

Sangat kontras. Di satu sisi ada kesunyian. Di sisi lain ada budaya populer.

"Tempat ini jauh lebih komersial daripada yang saya bayangkan," kata wisatawan asal Kanada, Teja Manabotula, yang ditulis Agence France-Presse, Selasa, 7 Juli 2026.

BACA JUGA:Pameran Pendidikan Korea Selatan di Surabaya Turut Hadirkan Stan Kampus Perempuan, Ada Prodi Webtoon!

BACA JUGA:Afrika Selatan vs Korea Selatan 1-0: Taegeuk Warriors Tumbang, Bafana Bafana Lolos 32 Besar

Kesan serupa juga dirasakan Marvin Zhang, pemuda Jerman berusia 19 tahun. Ia datang karena rasa ingin tahunya terhadap Buddhisme. Namun, cara agama itu dipasarkan kepada generasinya membuatnya memahami mengapa sebagian orang menganggap pendekatan tersebut kurang menghormati nilai-nilai agama.

Perdebatan memang muncul. Akan tetapi, satu hal sulit dibantah. Cara baru itu berhasil menarik perhatian anak muda.

Pameran Buddhisme Internasional Seoul tahun ini mencatat rekor baru. Sebanyak 250 ribu orang hadir. Sekitar dua pertiganya berasal dari Generasi Z. Separuh pengunjung bahkan tidak memiliki afiliasi agama.

Buddhisme juga memperoleh citra paling positif dalam Survei Persepsi Agama 2025 yang dilakukan Korea Research. Padahal, jumlah warga Korea Selatan yang mengaku sebagai penganut Buddhisme sebenarnya tidak mengalami peningkatan berarti.

Fenomena lain juga ikut tumbuh. Program temple stay semakin ramai diminati. Ribuan orang lokal maupun wisatawan asing memilih tinggal beberapa hari di kuil. Mereka menikmati makanan sederhana ala biksu. Mereka ikut membersihkan lingkungan kuil. Mereka bermeditasi.


PERSEMBAHYANGAN di Kuil Jogyesa, Suoul, Korea Selatan, 2 Juli 2026.-JADE GAO-AFP-

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: