Buddha, DJ, dan Generasi Z Korea Selatan yang Mencari Jalan Pulang

Buddha, DJ, dan Generasi Z Korea Selatan yang Mencari Jalan Pulang

UMAT BUDDHA memenuhi Kuil Jogyesa di Esoul, 2 Juli 2026. Agama Buddha di Korea Selatan terus berupaya menarik anak-anak muda.-JADE GAO-AFP-

Popularitas Buddhisme memang meningkat sebagai bagian dari budaya populer. Akan tetapi, kenyataan lain juga tetap terlihat.

Survei tahun lalu menunjukkan komposisi penganut agama di Korea Selatan nyaris tidak berubah. Sebanyak 16 persen penduduk tetap mengidentifikasi diri sebagai Buddhis. Kelompok terbesar justru berasal dari mereka yang tidak beragama. Mayoritas berasal dari usia 18 hingga 29 tahun.

Bagi Jo Yang-ok yang kini berusia 78 tahun, semua upaya itu layak dicoba. "Banyak orang seusia saya sudah tidak mampu lagi datang ke kuil karena sakit atau bahkan telah meninggal. Kalau cara ini bisa menghadirkan anak-anak muda, saya tidak keberatan," ujarnya.

Di mata Brian Somers, pengajar studi Buddhisme di Universitas Dongguk, perubahan seperti ini bukan sesuatu yang baru. Setiap agama, katanya, selalu menemukan bentuk baru ketika generasi berganti.

Buddhisme yang tampil dengan wajah lebih akrab bukan berarti kehilangan dirinya. Selama ajarannya tetap dijaga, yang berubah hanyalah cara agama itu mengetuk pintu hati generasi yang hidup di zaman berbeda. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: