Pengembangan Riset Kolaborasi Internasional dengan Negara Miskin

Pengembangan Riset Kolaborasi Internasional dengan Negara Miskin

ILUSTRASI Pengembangan Riset Kolaborasi Internasional dengan Negara Miskin.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Selama ini narasi kolaborasi riset internasional di berbagai perguruan tinggi bergengsi kerap didominasi kiblat ke negara-negara Barat atau kawasan utara global. 

Namun, yang dilakukan Unesa kali ini adalah sebuah aspek baru: angin segar tengah berembus dari kampus Universitas Negeri Surabaya. 

Melalui studi kerja sama yang dilakukan dengan perguruan tinggi dari negara-negara miskin, Unesa secara progresif membuktikan bahwa kolaborasi selatan-selatan (south-south cooperation) dengan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah (low-income and lower-middle-income countries), seperti Nigeria, Bangladesh, Filipina, dan Kamboja, justru membuahkan hasil yang jauh lebih aplikatif, taktis, dan berdampak langsung bagi pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Negara-negara miskin, yang menjadi lokasi penelitian, bukan sekadar daerah baru yang menarik diteliti. Di sana juga tumbuh habitus yang berbeda. Kondisi banyak masyarakat yang masih hidup pas-pasan, latar belakang pendidikan yang belum tumbuh dengan baik, dan lain-lain, semua membuat negara-negara miskin yang menjadi lokasi penelitian dapat menjadi medan pembelajaran yang penting. 

Secara demografis, geografis, dan sosio-kultural, Indonesia, Nigeria, Kamboja, Bangladesh, Filipina, dan lain-lain memiliki lanskap yang khas. 

Kita adalah negara-negara yang rentan terhadap perubahan iklim, memiliki disparitas wilayah, padat penduduk, serta bergelut dengan tantangan transformasi sistem pendidikan dan ekonomi pascapandemi. 

Dalam konteks ini, penelitian kolaboratif antara dosen Unesa dan mitra di Bangladesh, Negeria, Siera Loane, atau Filipina dan lain-lain bukanlah hubungan donor-penerima, melainkan kemitraan sejajar yang saling melengkapi (co-creation). 

Harapan ke Depan

Meski belum banyak, belasan penelitian yang dilakukan dosen-dosen Unesa saat ini telah memberikan secercah harapan sekaligus mengubah paradigma internasionalisasi perguruan tinggi. 

Internasionalisasi kampus tidak selalu harus diukur dari seberapa banyak kita mengirim dosen dan mahasiswa ke negara-negara maju di Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan lain-lain. 

Kerja sama internasional dalam riset yang dikembangkan Unesa menjadi bermakna ketika institusi pendidikan tinggi di tanah air mampu bergandengan tangan dengan negara-negara serumpun yang memiliki problematik setara, membedah masalahnya bersama, dan menemukan jalan keluar yang dapat diterapkan di negara masing-masing.

Melalui pendanaan kompetitif dan tata kelola riset yang makin matang, Unesa telah meletakkan fondasi yang kuat. Namun, pekerjaan rumah belum usai. Ke depan, universitas perlu memperluas cakupan kolaborasi itu. 

Tidak hanya pada riset pendidikan dan ilmu sosial, tetapi juga merambah ke ranah riset sains, teknologi (AI), dan kedokteran tropis bersama negara-negara di Asia Selatan dan Afrika.

Dari monev yang dilakukan, kita belajar dalam satu hal: dalam peta riset global, kontribusi terhadap kemanusiaan tidak mengenal batasan status ekonomi suatu negara. 

Unesa telah mengambil langkah strategis yang berani dengan merajut kolaborasi yang berpihak kepada kemajuan bersama sebagai sebuah bangsa di dunia. Kami belajar bahwa dari riset yang membumilah yang akan membawa perubahan nyata bagi peradaban dunia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: