Menguji Keadilan PTN dan PTS dalam Pembangunan Nasional
ILUSTRASI Menguji Keadilan PTN dan PTS dalam Pembangunan Nasional.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
PEMERINTAHAN Presiden Prabowo Subianto kini mengawal arah baru pendidikan tinggi Indonesia. Konsep utama yang diusung adalah ”Kampus Berdampak” bagi pembangunan nasional. Perguruan tinggi tidak boleh lagi sekadar menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah.
Fokus utama kini adalah memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan industri. Kebijakan itu lahir dari evaluasi mendalam terhadap program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebelumnya. Pemerintah menginginkan perguruan tinggi menjadi motor penggerak ekonomi yang nyata.
Di era ini, pendekatan akademik harus bersifat lebih aplikatif dan solutif. Kampus diposisikan sebagai pusat inovasi untuk mendukung kedaulatan pangan nasional. Selain itu, kampus harus mendukung hilirisasi industri, penguatan teknologi, dan transformasi ekonomi.
Harapannya, konsep Kampus Berdampak memiliki makna yang jauh lebih berwibawa. Kampus bukan lagi menara gading tempat memproduksi ijazah –yang jauh dari realitas sosial masyarakat.
BACA JUGA:Pecundang Pendidikan: Kisah Abadi Joki Seleksi PTN
BACA JUGA:Ketika PTS Menjadi Pilihan Cadangan
Paradigma administratif lama yang kaku harus segera ditinggalkan secara total. Perguruan tinggi kini dituntut lebih responsif dan adaptif agar menjadi pusat solusi sosial dan berdampak terhadap dinamika kebutuhan nasional.
Implementasi Riset dalam Praktik Lapangan
Konsep Kampus Berdampak membuka peluang besar bagi keterlibatan praktis dosen. Pada tataran praktik, setiap disiplin ilmu harus memberikan solusi nyata. Contohnya, prodi teknik lingkungan dapat menjadi laboratorium pengolahan limbah daerah.
Mereka bisa membantu dinas lingkungan hidup mengelola sampah secara modern. Riset mengenai teknologi pupuk organik harus mampu membantu produktivitas petani. Melalui pendampingan desa lestari, kampus hadir sebagai mitra pelestarian lingkungan.
Ketika pemerintah mendorong industrialisasi, prodi teknik industri harus menyiapkan SDM. Tenaga kerja yang dihasilkan harus sesuai dengan standar kebutuhan industri. Begitu juga saat pemerintah fokus menangani masalah kawasan kumuh perkotaan. Prodi perencanaan wilayah dan kota mampu melakukan pemetaan spasial kawasan.
BACA JUGA:Kanibalisme Pendidikan Tinggi: Bagaimana Kampus Raksasa Membunuh PTS Daerah Secara Legal
BACA JUGA:Regenerasi Dosen di PTN
Mereka bisa menyusun rencana tata ruang yang solutif bagi daerah. Intinya, setiap kebutuhan pemerintah harus mampu dijawab oleh keahlian kampus. Sinergi itu akan mempercepat pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: