Regenerasi Dosen di PTN

Regenerasi Dosen di PTN

-Ilustrasi: Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

HAMPIR semua perguruan tinggi negeri (PTN) di tanah air kini tengah menghadapi tantangan serius berkaitan dengan regenerasi dosen. Proses rekrutmen dosen baru yang terlambat kerap menghantui dan akhirnya mengunggah kesadaran baru tentang arti penting perencanaan dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan PT.

Dalam acara rapat pimpinan yang dihadiri rektor, wakil rektor, ketua senat universitas, sekretaris universitas, sejumlah direktur, dan para dekan di lingkungan universitas Airlangga pada 24 Februari 2023 di Kuala Lumpur, Malaysia, isu regenerasi dosen menjadi salah satu topik utama yang didiskusikan. 

Disadari bahwa keberlangsungan dan regenerasi dosen adalah salah satu kunci penting menjaga kualitas pembelajaran di lingkungan PT. Ketika sejumlah guru besar dan dosen senior satu per satu pensiun, sementara di saat yang sama tidak dipersiapkan rekrutmen dosen pengganti, jangan kaget jika kelangsungan kegiatan pembelajaran menjadi terganggu. 

Di berbagai PT, tak terkecuali di Universitas Airlangga, rekrutmen dosen menjadi persoalan serius. Sebab, ada mata rantai yang seolah terputus. Ketika PT lebih banyak berkonsentrasi pada upaya mengejar pemeringkatan universitas dan terlena dengan rutinitas, rekrutmen dosen baru menjadi agak terabaikan. Biasanya PT baru gelagapan ketika mereka tiba-tiba dihadapkan pada situasi saat banyak dosen senior mulai pensiun.  

Keberlanjutan proses pembelajaran dan upaya menjaga kecukupan rasio dosen dan mahasiswa menjadi terganggu ketika ada gelombang dosen yang pensiun. Di berbagai program studi bahkan ada yang mengalami defisit dosen karena tiba-tiba ada banyak dosen yang memasuki usia pensiun, sementara dosen pengganti belum ada. Kebijakan menghentikan rekrutmen PNS yang sempat diberlakukan sering kebablasan sehingga ketika ada banyak dosen yang pensiun, PT pun tidak siap untuk mengatasinya.

 

Gaji Kecil

Rektor Universitas Airlangga Prof Mochamad Nasih ketika membuka rapat pimpinan telah menyampaikan bahwa persoalan rekrutmen dosen baru tidak bisa lagi ditunda. Dikatakan rektor, dewasa ini mencari lulusan S-2 atau S-3 yang bersedia menjadi dosen tidak lagi mudah. Berbeda dengan era satu-dua dekade sebelumnya, saat animo menjadi dosen sangatlah tinggi, kini hasrat lulusan PT menjadi dosen seolah susut.

Gaji kecil dan kenaikan tingkat kesejahteraan yang lambat menjadi kendala utama untuk menarik minat lulusan menjadi dosen. Nyaris tidak ada lulusan PT yang tertarik menjadi dosen karena gajinya yang kecil. Bisa dibayangkan, bagaimana mungkin meminta lulusan S-2 dan S-3 bersedia menjadi dosen jika gaji yang ditawarkan hanya sekitar Rp 2 sampai Rp 3 juta. Ada masa tunggu yang panjang sebelum seorang dosen baru bisa menikmati gaji di atas Rp 5 juta per bulan.

Bukan rahasia lagi bahwa gaji dosen di lingkungan PTN sering kali masih di bawah upah minimum regional. Dosen muda di PTN di Surabaya, misalnya, dengan masa kerja lima tahun, mereka umumnya hanya menerima gaji di bawah Rp 5 juta per bulan. Kenaikan besaran gaji dosen umumnya berlangsung lambat. Dosen dengan masa kerja 20 tahun pun, gajinya tidak akan lebih dari Rp 10 juta per bulan.

Dibandingkan dengan gaji lulusan PT yang bekerja di sektor swasta, gaji dosen PTN termasuk sangat minimal. Para dosen baru di PT swasta rata-rata bisa menerima gaji sekitar Rp 7,5 juta hingga Rp 10 juta per bulan. Seorang lulusan PT yang bekerja di perusahaan swasta, apalagi di perusahaan multinasional, gaji per bulan mereka bahkan bisa mencapai Rp 20 juta hingga Rp 50 juta lebih.

Dengan kondisi penghasilan yang begitu timpang, wajar jika tidak banyak lulusan PT yang berminat menjadi dosen di PTN. Seorang lulusan PT dari jenjang pendidikan S-2 apalagi S-3, tentu mereka memiliki harapan yang tinggi atas kompetensi yang dimiliki. Selama ini, banyak lulusan PT dengan kualifikasi terbaik umumnya enggan menjadi dosen PTN. Gaji dosen yang jauh dari layak menjadi salah satu penyebabnya.

Di sejumlah PTN, tidak jarang terjadi sejumlah dosen baru yang sudah diterima bekerja di sana, ketika ada tempat kerja yang menawarkan gaji lebih bagus, mereka umumnya memilih pindah kerja. Bagi lulusan PT yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, tuntutan kebutuhan hidup membuat mereka berpikir lebih realistis. Meski mungkin menjadi dosen menawarkan kehormatan lebih, tuntutan kebutuhan hidup keluarga bagaimanapun tidak mungkin dinafikan.

Di era sekarang ini, tidak mungkin lagi meminta lulusan PT bersedia mengabdi sebagai dosen kalau tawaran itu tidak sebanding dengan tingkat kesejahteraan yang dijanjikan. Lulusan S-2 dan S-3, yang telah bersusah payah menyelesaikan pendidikan tingginya dan tentu tidak sedikit pula dana yang telah dikeluarkan, tidak mungkin bersedia menjadi dosen di PTN kalau gaji yang mereka terima jauh dari layak. Pada titik itulah, proses rekrutmen dosen dan tawaran gaji bagi dosen baru benar-benar harus memperoleh perhatian lebih.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: