Sekolah Favorit dan Mitos Masa Depan

Sekolah Favorit dan Mitos Masa Depan

ILUSTRASI Sekolah Favorit dan Mitos Masa Depan.-Arya/AI-Harian Disway-

Yang terpenting bukanlah berapa kali seseorang gagal, melainkan bagaimana ia bangkit setelah mengalami kegagalan. Dalam ilmu psikologi, kemampuan bangkit dari tekanan disebut resiliensi. 

Kemampuan itu tidak muncul begitu saja. Resiliensi tumbuh ketika anak merasa memiliki lingkungan yang aman, dihargai, dan dipercaya. Ironisnya, resiliensi justru sering lahir dari pengalaman gagal, bukan dari keberhasilan yang datang tanpa hambatan.

BACA JUGA:Ketika Negara Terlambat Hadir di Bangku Sekolah Siswa

BACA JUGA:Revitalisasi Sekolah untuk Pendidikan Menumbuhkan

Karena itu, gagal masuk sekolah favorit sesungguhnya dapat menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga. Anak belajar menerima kenyataan, mengevaluasi diri, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menemukan peluang di tempat yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. 

Pembelajaran seperti itu jauh lebih bernilai daripada sekadar memperoleh status sebagai siswa sekolah unggulan.

Apalagi, dunia saat ini sudah berubah. Informasi dan ilmu pengetahuan tidak lagi hanya berada di ruang kelas. Siapa pun dapat belajar dari buku, internet, pelatihan, komunitas, hingga berbagai platform digital. Kesempatan untuk berkembang terbuka bagi semua orang, tidak peduli berasal dari sekolah mana.

Faktanya, banyak tokoh sukses yang berasal dari sekolah biasa-biasa saja. Yang membedakan mereka bukan nama sekolah, melainkan karakter, disiplin, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk terus belajar. 

Dunia kerja pun makin menghargai kemampuan menyelesaikan masalah, komunikasi, kreativitas, dan integritas daripada sekadar nama almamater.

Karena itu, orang tua juga perlu mengubah cara pandang. Jangan sampai sekolah menjadi simbol prestise yang tanpa disadari membebani anak. Pendidikan seharusnya menjadi proses memanusiakan manusia, bukan perlombaan untuk mengumpulkan gengsi sosial.

Sekolah favorit memang dapat memberikan lingkungan belajar yang baik. Namun, sekolah yang baik tidak otomatis menghasilkan lulusan yang hebat.

Sebaliknya, sekolah yang sederhana pun dapat melahirkan generasi luar biasa apabila siswanya memiliki semangat belajar, guru yang berdedikasi, dan keluarga yang terus memberikan dukungan.

Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu mampu membuka semua pintu. Anak membutuhkan orang tua yang tetap berdiri di sampingnya ketika satu pintu tertutup. Sebab, keberhasilan hidup tidak ditentukan oleh pintu pertama yang terbuka, tetapi oleh keberanian untuk terus mengetuk pintu berikutnya.

Mungkin hari ini seorang anak gagal masuk ke sekolah yang diimpikannya. Namun, tidak berarti ia gagal meraih masa depannya. Sebab, masa depan tidak dibangun oleh nama sekolah semata, tetapi oleh karakter yang kuat, semangat yang tidak mudah padam, dan keluarga yang selalu percaya bahwa setiap kegagalan hanyalah awal dari kesempatan berikutnya. (*)

*) Heraldha Savira, psikolog klinis dan anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: