Sekolah Favorit dan Mitos Masa Depan
ILUSTRASI Sekolah Favorit dan Mitos Masa Depan.-Arya/AI-Harian Disway-
SETIAP musim penerimaan peserta didik baru selalu menghadirkan dua wajah. Wajah pertama dipenuhi senyum, ucapan selamat, dan unggahan media sosial tentang keberhasilan masuk sekolah impian.
Wajah kedua lebih sunyi. Ada anak yang memilih diam di kamar karena kecewa. Ada orang tua yang tidak sanggup menyembunyikan kesedihannya. Bahkan, ada yang merasa masa depan anaknya telah berubah hanya karena gagal diterima di sekolah yang dianggap favorit.
Pertanyaannya, benarkah masa depan ditentukan oleh satu sekolah? Sayangnya, di masyarakat kita masih hidup anggapan bahwa sekolah favorit adalah satu-satunya jalan menuju masa depan yang cerah.
Sekolah menjadi simbol status sosial, ukuran kecerdasan, sekaligus kebanggaan keluarga. Tidak mengherankan jika proses seleksi sekolah berubah menjadi pertaruhan harga diri, bukan sekadar proses pendidikan.
BACA JUGA:Waspada Learning Loss: Fenomena Candu Gawai saat Libur Sekolah
BACA JUGA:Pendidikan Membahagiakan Berbasis Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
Akibatnya, ketika seorang anak tidak lolos, yang terluka bukan hanya dirinya. Orang tua pun ikut terpukul. Ada yang merasa gagal mendidik anak. Ada yang malu kepada keluarga besar. Bahkan, ada yang terus menyalahkan diri sendiri karena merasa kurang maksimal mendampingi proses belajar.
Padahal, anak sedang menghadapi kekecewaan yang tidak kalah besar. Ia kehilangan sekolah yang diimpikan. Ia harus melihat teman-temannya merayakan keberhasilan, sedangkan dirinya sibuk mencari jawaban mengapa gagal. Pada saat seperti itulah, kondisi psikologis anak menjadi sangat rentan.
Yang paling dibutuhkan anak bukanlah ceramah panjang, melainkan penerimaan. Bukan perbandingan dengan teman-temannya, melainkan keyakinan bahwa ia tetap dicintai dan dihargai.
Kalimat sederhana seperti, ”tidak apa-apa, kita hadapi bersama”, sering kali jauh lebih menenangkan daripada berbagai nasihat yang bermaksud menyemangati, tetapi justru menyalahkan.
BACA JUGA:Bangku Sekolah dan Pena Kemiskinan
Sebaliknya, kalimat seperti ”kalau saja kamu belajar lebih rajin” atau ”lihat, temanmu bisa diterima” mungkin terdengar biasa bagi orang tua, tetapi dapat menjadi beban psikologis yang melekat lama dalam diri anak. Ia mulai percaya bahwa dirinya kurang pintar, kurang mampu, bahkan menjadi penyebab kekecewaan keluarganya.
Di sinilah orang tua memegang peran yang sangat penting. Motivasi harus dibangun. Orang tua perlu mengajarkan bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: