Saatnya Mengomunikasikan Kemandirian Energi

Saatnya Mengomunikasikan Kemandirian Energi

ILUSTRASI Saatnya Mengomunikasikan Kemandirian Energi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Indonesia sebenarnya memiliki modalitas alamiah yang luar biasa kaya untuk mencapai kemandirian energi. Di ajang Indonesia Solar Summit 2023, Menteri ESDM saat itu, Arifin Tasrif,  menyatakan bahwa potensi sumber energi surya yang dimiliki Indonesia lebih dari 3.200 gigawatt (GW), tetapi baru terserap hanya sekitar 200 megawatt (MW). 

Selain itu, ruang pengembangan bioenergi berbasis komoditas lokal seperti tebu, singkong, dan jagung tersebar luas di berbagai daerah. Informasi kekayaan sumber daya itu harus diketahui, dipahami, dan dimiliki publik secara luas melalui kampanye informasi yang terstruktur, bukan sekadar menjadi catatan kaki dalam dokumen rencana strategis kementerian.

Jika kita menengok praktik baik di tingkat internasional, keberhasilan Jerman dalam menjalankan kebijakan energiewende atau transisi energi sepanjang 2011–2017 dapat menjadi rujukan yang sangat berharga. 

Kesuksesan Jerman dalam menggeser ketergantungan energi mereka menuju sumber terbarukan tidak dimulai dari kecanggihan teknologi mutakhir, tetapi dari penerapan prinsip komunikasi risiko yang radikal dan terbuka sejak awal.

Pemerintah Jerman tidak pernah menutupi fakta mengenai kerentanan energi fosil dan risiko lingkungan kepada warganya. Informasi mengenai biaya, tantangan, dan target bauran energi disampaikan secara transparan tanpa bumbu retorika yang melenakan. 

Melalui kampanye publik yang inklusif dan terdesentralisasi, masyarakat tidak diposisikan sebagai konsumen pasif yang manja, tetapi sebagai prosumer (produsen sekaligus konsumen) melalui kepemilikan panel surya atap dan koperasi energi komunitas. 

Keterbukaan informasi itu terbukti tidak melahirkan kepanikan, tetapi justru memicu solidaritas sosial, inovasi lokal, dan kemandirian energi di tingkat domestik.

Sudah saatnya kita menghentikan produksi narasi kelimpahan semu yang melenakan. Mulailah menyuguhkan peta jalan transisi energi alternatif yang transparan, mudah dipahami, dan dapat diakses secara murah oleh masyarakat. 

Kita tidak hanya sedang menyelamatkan ketahanan fiskal negara dari jerat impor minyak bumi, tetapi juga sedang membangun fondasi kedaulatan bangsa yang sejati. (*)

*) Yayan Sakti Suryandaru adalah dosen di Departemen Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga, Surabaya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: