Digitalisasi: Senjata Penguat Kompetensi atau Penghambat Generasi?
ILUSTRASI Digitalisasi: Senjata Penguat Kompetensi atau Penghambat Generasi?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BEBERAPA hari terakhir, saya menyaksikan seorang anak sekolah menengah dan mahasiswa mampu membuat presentasi, meringkas buku, menerjemahkan jurnal berbahasa asing, hingga menyusun rancangan bisnis hanya dengan bantuan artificial intelligence (AI).
Di sisi lain, seorang pelaku usaha mikro kini dapat memasarkan produknya ke berbagai negara melalui telepon genggam tanpa harus memiliki toko fisik. Pemandangan seperti itu bukan lagi cerita masa depan. Itulah wajah dunia hari ini.
Digitalisasi telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan. Bagi generasi Z dan generasi milenial, teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan senjata untuk memperkuat kompetensi.
Mereka memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), media digital, dan berbagai platform teknologi untuk belajar lebih cepat, membangun jejaring, menciptakan inovasi, hingga membuka peluang ekonomi baru.
BACA JUGA:Digitalisasi yang Mengubah Industri Media: Adaptasi atau Mati?
Di sisi lain, digitalisasi juga menyimpan berbagai sisi gelap. Mulai disinformasi, kejahatan siber, penyalahgunaan data pribadi, manipulasi algoritma, hingga ketergantungan teknologi yang dapat mengikis daya kritis. Karena itu, digitalisasi tidak boleh dipandang hanya dari satu sisi.
Ia adalah peluang sekaligus tantangan yang menuntut kesiapan, kedewasaan, dan kemampuan beradaptasi.
Perbedaan cara memandang digitalisasi juga makin terlihat antargenerasi. Sebagian besar generasi muda tumbuh bersama teknologi sehingga perubahan dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, tidak sedikit generasi yang lahir pada era pradigital (baby boomer dan generasi X) masih memandang transformasi digital sebagai sesuatu yang rumit, bahkan cenderung memilih mempertahankan pola kerja yang telah lama dijalani.
BACA JUGA:Digitalisasi dalam Pengembangan Kompetensi Karyawan
BACA JUGA:Digitalisasi Akuakultur
Tentu tidak semua demikian. Banyak tokoh senior yang mampu menjadi teladan dalam mengadopsi teknologi. Namun, fakta bahwa masih ada sebagian yang enggan beradaptasi tidak dapat diabaikan karena mereka juga menempati posisi-posisi strategis dalam berbagai organisasi, lembaga, maupun institusi publik.
Persoalan menjadi makin serius ketika keengganan bertransformasi tersebut ikut memengaruhi proses pengambilan keputusan. Ketika sebagian elite pemimpin dan pembuat kebijakan belum memiliki perspektif yang memadai terhadap perkembangan kecerdasan buatan dan transformasi digital, regulasi berpotensi berjalan lebih lambat daripada laju disrupsi teknologi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: