Petani Hutan Tesso Nilo: Raksasa Lembut yang Mencuri Hati
PENULIS bersama salah satu gajah di kamp Elephants Flying Squad (EFS) Tesso Nilo, Pekanbaru, Riau.-Dok. Pribadi-
”SEDIKIT lagi ya, Bu, bertemu adik-adikku,” bisik anak saya saat pesawat yang kami tumpangi bersiap mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru.
Kalimat yang sama sebelumnya ia ucapkan berulang kali di atas kereta api menuju Jakarta.
”Adik-adik” yang dimaksud tentu saja bukan manusia, melainkan tiga gajah sumatera atau Elephas maximus sumatranus di kamp Elephants Flying Squad (EFS) Tesso Nilo. Mereka adalah Harmoni, Domang, dan Seroja, gajah-gajah yang usianya lebih muda daripada anak saya.
Perjalanan itu merupakan bagian dari open trip yang dikelola langsung oleh Koperasi Tesso Nilo.
Jalur Uji Nyali Menuju Jantung Sumatera
Peta daring di gawai menjanjikan perjalanan yang manis: jarak 108 kilometer dari Bandara Sultan Syarif Kasim II menuju Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 2 jam.
Namun, realitas di lapangan berkata lain. Jalur yang berliku dan kondisi jalan yang rusak parah mengubah estimasi tersebut menjadi 5 jam perjalanan, termasuk istirahat singkat 30 menit.
Kondisi jalan yang luar biasa ekstrem. Lubang-lubang di sepanjang perjalanan dan kontur tanah yang bergelombang siap menguji ketahanan mobil tipe SUV yang kami tumpangi. Beruntung, sopir kami memiliki kemampuan mengemudi tingkat dewa.
Manuver-manuvernya menghindari lubang tanpa mengurangi kenyamanan penumpang patut diacungi dua jempol. Perjalanan melelahkan itu seketika terbayar lunas begitu kami menginjakkan kaki di kawasan Tesso Nilo tepat pukul 15.00 WIB.
Agenda pertama kami setelah melepas lelah sejenak adalah memandikan dua gajah: Harmoni, gajah jantan dan Lisa, gajah betina. Lisa sedang hamil dan tengah menunggu kelahiran. Gajah memiliki masa kehamilan yang panjang, yakni 22 bulan. Berdiri berhadapan langsung dengan mamalia besar itu menghadirkan sensasi yang sulit digambarkan.
Lisa menyapa saya dengan embusan napas hangat dari belalainya, disusul sebuah suara yang mirip sekali dengan efek suara tyrannosaurus rex yang biasa kita dengar di film-film bertema dinosaurus.
Usai sesi mandi sore, kami kembali ke kamp EFS. Di sana gajah-gajah telah berada di ”kamar” mereka. Saya lebih memilih kata kamar karena hutan Tesso Nilo, termasuk kamp EFS, bukan sekadar tempat pelatihan gajah atau destinasi wisata.
Ini adalah rumah Ria, Lisa, Indro, Tesso, Imbo, Harmoni Rimbo, Bujang Tan Domang, dan Nona Seroja. Gajah-gajah itu, bersama satwa liar lainnya, adalah pemilik hutan Tesso Nilo yang sebenarnya.
Dari Domang hingga Bayi Mungil Seroja
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: