Petani Hutan Tesso Nilo: Raksasa Lembut yang Mencuri Hati
PENULIS bersama salah satu gajah di kamp Elephants Flying Squad (EFS) Tesso Nilo, Pekanbaru, Riau.-Dok. Pribadi-
Di kamp EFS, kami akhirnya bertemu Domang, gajah kecil yang menjadi primadona warganet Indonesia dan mungkin dunia. Namanya diambil dari tokoh cerita rakyat Pelalawan, Riau, yaitu Bujang Tan Domang.
Saat ini aktivitas harian Domang selain mencari makan di hutan adalah sekolah. Menurut mahout (pawang gajah) Domang dan pelatih, sekolah untuk gajah sebenarnya hanyalah pengulangan dari aktivitas alami mereka di alam.
Jika ada tambahan ”pelajaran” seperti mengangkat kaki kanan atau kiri, tujuan utamanya lebih pada memudahkan pemeriksaan kesehatan harian gajah. Kesehatan para gajah di kamp EFS dipantau secara teratur, termasuk kesehatan bayi gajah cantik yang merupakan adik Domang, Nona Seroja. Pagi sebelum mandi dan mencari makan, suhu tubuh Seroja diukur.
Nona Seroja bisa dikatakan sebagai magnet baru di kamp EFS. Bayi gajah berjenis kelamin betina itu lahir pada Rabu, 10 Juni 2026. Saya ingat betul, sore hari di tanggal yang sama, seperti ada dorongan kuat di hati untuk membuka media sosial.
Ternyata unggahan pertama yang muncul di lini masa saya adalah video gajah Ria yang baru saja melahirkan bayi mungil, meski ukurannya termasuk mungil untuk gajah, tapi bobot tubuhnya hampir 100 kilogram dengan tinggi 93 sentimeter.
Hari-hari melihat langsung Seroja mengeksplorasi dunia sekitarnya sungguh menggemaskan. Namun, mendekatinya adalah hal yang tidak boleh dilakukan.
Mengapa? Sebab, sang induk, Ria, selalu berada dalam mode waspada. Itu adalah insting protektif alami dari seorang ibu demi melindungi bayinya, membuat kami harus puas mengabadikan kelucuan Seroja melalui kamera ponsel.
Aktivitas Jelajah Hutan
Hari kedua diisi dengan agenda jelajah hutan. Di dalam sebagian kecil dari hutan Tesso Nilo yang makin menyempit, pemandu menjelaskan bahwa vegetasi alami yang membentuk hutan di awal adalah tanaman pakis. Perjalanan itu juga menawarkan pengalaman yang tidak kalah menyenangkan.
Saya dikenalkan dengan berbagai satwa liar dan beragam jenis pohon di hutan Tesao Nilo beserta status mereka: Terancam punah, nyaris terancam, dan masih banyak. Saya jadi tahu bahwa singkawang adalah nama pohon. Bahwa meranti punya motif di kulit batang sesuai jenisnya. Motif itu akan berubah seiring pertumbuhan batang meranti.
Pohon hutan yang kokoh. Ada pohon belimbing buah, sialang, rotan, sirih hutan, dan ratusan jenis tanaman lainnya.
Kami kemudian diajak melihat dan menyentuh langsung dua jenis pohon: belimbing hutan dan sialang. Saat telapak tangan saya menyentuh batang pohon belimbing hutan, seketika rasa haru menyeruak. Air mata kontan menitik, tidak bisa ditahan.
Bagaimana tidak haru? Di hadapan saya menjulang pohon berusia ratusan tahun. Batang pohon belimbing hutan cenderung pipih, tidak bulat seperti umumnya batang berkambium.
Jelajah hutan menjadi penutup dari rangkaian open trip di Tesso Nilo. Kami pulang menuju Pekanbaru dengan kotak ingatan yang penuh dengan kenangan manis. Tesso Nilo dan para raksasa lembutnya telah berhasil memikat kami bertiga. Kami pun seolah kompak: ingin tinggal lebih lama di EFS.
Pemandangan kebun sawit di sepanjang perjalanan pergi ke Tesso Nilo dan kembali ke Pekanbaru seolah mengingatkan kami tentang realitas Sumatera, khususnya Riau, hari ini. Di kiri dan kanan jalan, pemandangan didominasi kebun kelapa sawit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: