Londo Ireng dan Luka Lama Kolonialisme
ILUSTRASI Londo Ireng dan Luka Lama Kolonialisme.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
MUNGKIN Presiden Prabowo Subianto ingin mengingatkan bahwa kepentingan asing tetap perlu diwaspadai. Itu masuk akal. Negara memang tidak boleh lengah.
Masalahnya, istilah ”Londo ireng” datang dari masa penjajahan. Sebutan itu dulu melekat kepada orang-orang yang dianggap membantu kekuasaan kolonial. Karena itu, ketika dipakai sekarang, orang bisa langsung menangkapnya sebagai tuduhan tidak setia kepada bangsa.
Istilah tersebut muncul dalam pidato Prabowo saat menghadiri Harlah Ke-28 PKB pada 23 Juli 2026. Ia sedang menyinggung pemberitaan tentang sekolah yang belum diperbaiki.
Pemerintah merasa sudah bekerja besar, sedangkan media masih memberikan ruang luas kepada bangunan yang rusak. Dari sudut pandang pemerintah, pemberitaan seperti itu bisa terasa tidak adil. Hasil kerja kurang terlihat. Kekurangan yang tersisa justru menjadi wajah utama.
BACA JUGA:Londo Ireng sang Penjajah Sejati
Konteks itu perlu dipahami agar ucapan Prabowo tidak dibaca sepotong-sepotong. Negara memang perlu waspada. Media, pengamat, dan LSM juga dapat salah, berat sebelah, atau membawa kepentingan tertentu.
Tidak semua kritik lahir dari niat yang bersih. Pemerintah berhak menjawab dengan data, meminta keterbukaan sumber dana, dan menindak pelanggaran bila bukti memang tersedia.
Asal-usul Londo Ireng
Masalahnya, Londo ireng memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada perdebatan tentang pemberitaan sekolah. Suara.com menulis bahwa sebutan itu mula-mula merujuk pada prajurit Afrika Barat yang direkrut Belanda ke dalam KNIL pada abad ke-19.
Mereka dikenal sebagai zwarte Hollanders atau Belanda hitam. Sebagian diterjunkan dalam berbagai pertempuran kolonial di Nusantara.
Dalam perkembangannya, sebutan itu juga dipakai untuk menyebut pihak-pihak yang dianggap membela kepentingan penjajah. Maknanya berpindah dan meluas. Londo ireng kemudian tidak lagi terdengar sebagai nama dari masa lalu. Ia berubah menjadi tuduhan moral.
Orang yang mendapat stempel atau cap Londo ireng tidak hanya dianggap salah. Ia bisa dipandang sebagai orang yang tidak setia kepada bangsa, bahkan seolah-olah membantu kepentingan asing. Karena itu, istilah tersebut mudah memancing kemarahan dan kecurigaan, jauh melampaui persoalan awal yang sedang dibicarakan.
Harian Pikiran Rakyat Jatim pada 25 Juli 2026 menelusuri istilah Londo ireng melalui sejarah pembangunan infrastruktur kolonial di Banyuwangi. Dalam ingatan masyarakat, proyek kolonial tidak selalu hadir sebagai cerita tentang bendungan atau saluran irigasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: