Londo Ireng dan Luka Lama Kolonialisme
ILUSTRASI Londo Ireng dan Luka Lama Kolonialisme.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Ada tekanan, pengawasan, dan orang-orang lokal yang ikut menjaga kepentingan penguasa kolonial. Dari pengalaman seperti itulah, sebuah sebutan dapat bertahan lama.
Dampak Penjajahan pada Cara Berpikir
Bekas penjajahan semacam itu pernah banyak dibicarakan Frantz Fanon. Dalam Black Skin, White Masks (1952), Fanon menjelaskan bahwa kolonialisme dapat masuk sampai ke cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Penjajahan meninggalkan banyak hal: rasa rendah diri, kekaguman kepada pihak yang berkuasa, dan keinginan mengikuti gaya hidup yang dibuat oleh penjajah.
Kemerdekaan politik memang benar mengakhiri kekuasaan kolonial secara resmi. Namun, bekasnya tidak selalu ikut hilang: cara memandang bangsa lain, cara menilai diri sendiri, bahkan cara mencurigai orang di sekitar kita dapat berlangsung lebih lama.
Pengalaman kolonial kadang membuat sikap kita terhadap pihak asing menjadi tidak seimbang. Ada saatnya kita terlalu kagum dan menganggap semua yang datang dari luar lebih baik.
Pada saat lain, kita justru terlalu mudah curiga dan melihat hubungan dengan pihak asing sebagai ancaman. Cara pandang seperti itu juga dapat muncul dalam politik, ketika kritik atau perbedaan sikap cepat dikaitkan dengan kepentingan luar negeri.
Pemikiran Fanon tidak perlu dipakai untuk menilai kondisi psikologis Prabowo. Itu terlalu jauh. Gagasannya lebih berguna untuk memahami suasana batin masyarakat yang pernah lama hidup di era kolonialisme.
Dalam masyarakat seperti itu, persoalan loyalitas mudah menjadi sensitif. Kedekatan dengan pihak luar dapat dianggap mencurigakan. Kritik kepada pemerintah pun kadang cepat dikaitkan dengan agenda asing.
Ingatan Kolonial yang Masih Hidup
Jeffrey C. Alexander memberikan penjelasan dari arah lain. Melalui Cultural Trauma Theory (2004), ia menunjukkan bahwa peristiwa lama dapat terus hadir ketika masyarakat berkali-kali menceritakannya dan menjadikannya bagian dari identitas bersama. Ingatan itu hidup melalui dongeng, cerita keluarga, pelajaran sejarah, simbol, monumen, dan bahasa sehari-hari.
Istilah Londo ireng hadir melalui jalur semacam itu. Ia membawa ingatan tentang penjajahan ke ruang politik sekarang. Wartawan, pengamat, dan LSM yang dikritik dapat ditempatkan dalam bayangan masa kolonial: orang dalam yang membantu kepentingan luar.
Hubungan tersebut belum tentu disertai bukti. Namun, daya simbolisnya sudah bekerja lebih dahulu. Orang mulai menilai siapa yang dianggap setia, siapa yang diragukan, dan siapa yang ditempatkan di luar lingkaran nasionalisme.
Pidato Prabowo akhirnya membawa pembicaraan ke persoalan yang lebih luas. Kita masih mudah memakai bahasa kolonial untuk mengukur kecintaan seseorang kepada Indonesia. Orang yang sejalan dianggap membela bangsa. Mereka yang kritis lebih cepat diragukan.
Padahal, sejarah Indonesia juga tumbuh dari perdebatan, perbedaan sikap, dan keberanian mengoreksi kekuasaan. Kritik dapat keliru. Media dapat berat sebelah. LSM juga perlu terbuka mengenai kepentingan dan sumber pendanaannya. Semua itu dapat diperiksa melalui data dan bukti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: