Piala Dunia sebagai Riwayat Manusia

Piala Dunia sebagai Riwayat Manusia

Ilustrasi opini "Piala Dunia Sebagai Riwayat Manusia" yang ditulis Eri Irawan-Dibuat dengan AI-

Setelah mempermalukan Inggris dengan gol "Tangan Tuhan" dan gol dengan aksi solo melewati sejumlah pemain lawan, Maradona memimpin Argentina menjadi juara dengan mengalahkan Jerman Barat 3–2.

Empat tahun kemudian, Piala Dunia berlangsung saat Tembok Berlin runtuh dan Uni Soviet mulai kehilangan pengaruhnya. Dunia memasuki babak baru sejarah, dengan Piala Dunia yang paling membosankan dalam sejarah, di mana hanya tercipta rata-rata 2,21 gol per laga, tercatat terendah sepanjang sejarah Piala Dunia (tertinggi terjadi pada Piala Dunia 1954 dengan 5,38 gol per laga).

Piala Dunia 1994 berlangsung di Amerika Serikat, saat Mandela terpilih di Afrika Selatan, perang melanda bekas Yugoslavia, dan berbagai negara bekas blok Timur mulai merasakan realitas kapitalisme.

Stadion-stadion dipenuhi penonton, dan Maradona mengakhiri kariernya di Piala Dunia dengan kegagalan lulus tes doping. Final mempertemukan Brasil dan Italia. Setelah pertandingan berakhir tanpa gol, Brasil menang 3–2 melalui adu penalti dan meraih gelar dunia keempatnya.

Kembali soal Indonesia

Setelah disebutkan Galeano dalam esai tentang Piala Dunia 1966, Indonesia kembali disebutkan di awal esai tentang Piala Dunia 1998.

"Pasar saham Asia sedang terpuruk, seperti halnya kediktatoran Suharto di Indonesia, yang kehilangan kekuasaan meskipun kantongnya masih besar."

Final mempertemukan tuan rumah Prancis dengan Brasil. Prancis menjadi juara dengan skor 3-0. Namun Galeano, melihat para pemain bintang telah berubah menjadi komoditas yang diperlakukan seperti milik perusahaan.

Galeano mengkritik komersialisasi sepak bola. Istilah ekonomi seperti investasi, depresiasi, dan penawaran memenuhi halaman olahraga.

Galeano juga mengecam FIFA yang melarang pesan solidaritas sosial di seragam pemain, namun membiarkan iklan komersial mendominasi hampir setiap sudut pertandingan.

Piala Dunia 2002 terjadi dalam bayang-bayang serangan terhadap Menara Kembar di New York pada 2001, dan perang yang menyusul di Afghanistan. Krisis ekonomi mengguncang Argentina. Berbagai perusahaan raksasa tumbang akibat skandal keuangan.

Jepang dan Korea Selatan menjadi tuan rumah bersama bagi tiga puluh dua negara peserta. Turnamen ini merupakan Piala Dunia pertama yang diselenggarakan di benua Asia sekaligus yang pertama pada milenium baru.

Di final, Brasil mengalahkan Jerman 2–0 dan meraih gelar juara dunia kelima. Galeano menilai keberhasilan Brasil adalah penegasan tentang sepak bola indah yang melepaskan diri dari belenggu efisiensi dan kembali bermain dengan kebebasan.

Piala Dunia 2006 diselenggarakan di tengah Perang Irak, kekerasan di Gaza Palestina, dan ancaman perubahan iklim. Tema besar turnamen ini adalah perjuangan melawan rasisme. Setiap kali kick-off, para pemain membentangkan spanduk yang menyerukan penolakan terhadap diskriminasi rasial.

Tokoh utama Piala Dunia 2006 adalah Zinedine Zidane. Melalui teknik, visi permainan, dan keanggunannya di lapangan, dia membuktikan, bahwa keindahan sepak bola masih dapat bertahan di tengah kecenderungan permainan yang semakin mekanis.

Saat Zidane berakhir tragis setelah diusir dari lapangan karena menanduk lawannya dalam pertandingan final melawan Italia, Galeano tetap memandangnya sebagai pemain terbaik turnamen. Ia melihat insiden tersebut sebagai tindakan yang dapat diperdebatkan, antara kehilangan kendali atau mempertahankan harga diri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: