Piala Dunia sebagai Riwayat Manusia

Piala Dunia sebagai Riwayat Manusia

Ilustrasi opini "Piala Dunia Sebagai Riwayat Manusia" yang ditulis Eri Irawan-Dibuat dengan AI-

Namun fasisme tidak bisa menaklukkan para jurnalis internasional yang memilih dua pemain kulit hitam Brasil, Leônidas dan Domingos da Guia, menjadi pemain terbaik 1938 dengan mengenyahkan propaganda rasial.

Leonidas telah membuat jatuh hati publik dengan menjadi pencetak gol terbanyak. Satu dari tujuh golnya dicetak dengan kaki telanjang karena kehilangan sepatu di lapangan berlumpur saat menghadapi Polandia.

Perang Dunia II membuat pelaksanaan Piala Dunia tertunda delapan tahun, dari semula dijadwalkan pada 1942, molor menjadi 1950.

Brasil menjadi tuan rumah pada saat dunia sedang memasuki era baru kemajuan teknologi, lahirnya komputer modern, dan berbagai perubahan politik internasional.

Galeano baru berusia 10 tahun saat Uruguay membuat sejarah di Brasil. Di esainya tentang Piala Dunia 1950, dia bercerita bagaimana seluruh Brasil yakin kemenangan sudah di tangan. Jam emas untuk para juara telah disiapkan, koran-koran sudah menyiapkan berita kemenangan, dan berbagai perayaan telah dirancang.

Ini sepertinya skenario tak terelakkan saat Friaça membawa Brasil unggul. Stadion Maracana, tempat berlangsungnya final, bergemuruh oleh sorak-sorai ratusan ribu penonton. Namun dua gol yang dicetak pemain Uruguay, Schiaffino dan Ghiggia, mengubur Impian Brasil di Maracana sekaligus memboyong Piala Dunia ke Uruguay.

Galeano menuliskan peristiwa ini dengan subtil. "Ketika Ghiggia mencetak gol, 'keheningan di Maracanã sangat memekakkan telinga, keheningan paling riuh dalam sejarah sepak bola', dan Ary Barroso, musisi dan komposer "Acuarela do Brasil", yang memberikan komentar pertandingan untuk seluruh negeri, bersumpah untuk berhenti siaran selamanya.”

Kekalahan itu dianggap sebagai tragedi nasional Brasil. Presiden FIFA Jules Rimet kesulitan menemukan cara menyerahkan trofi kepada pemenang karena seluruh upacara telah dipersiapkan untuk kemenangan Brasil.

Empat tahun kemudian, Galeamo mencatat bahwa Piala Dunia 1954 berlangsung ketika dunia berada di tengah Perang Dingin dan berbagai konflik internasional. Brasil tampil dengan seragam kuning berkerah hijau menggantikan warna putih yang dianggap membawa kesialan pada 1950.

Tetap saja, Brasil bukan juaranya. Dikalahkan Hungaria dalam sebuah pertandingan yang keras, mereka memprotes wasit asal Inggris yang, ditulis Galeano, sebagai sosok yang bertindak "melayani komunisme internasional", merujuk pada Hungaria yang dulunya berkiblat ke komunisme Sovyet.

Kali Pertama Siaran Televisi

Piala Dunia 1958 untuk pertama kalinya disiarkan melalui televisi, meskipun siaran langsung hanya tersedia di Swedia. Brasil datang bukan favorit kali ini. Namun mereka punya pemain berusia tujuh belas tahun bernama Pelé dan Garrincha yang sebelumnya diragukan karena hasil tes psikologi. Bersama Didi sebagai pengatur permainan, Brasil menampilkan sepak bola yang memukau.

Brasil mengalahkan tuan rumah Swedia 5-2 di final dan menjadi juara dunia pertama yang meraih gelar di luar benuanya sendiri. Dan yang membuat Galeano terkesan, para pemain memberikan bola pertandingan kepada Américo, tukang pijat tim yang setia mendampingi mereka.

Final Piala Dunia untuk kali pertama disiarkan langsung ke beberapa negara melalui televisi internasional pada 1962. Brasil menjadi juara dengan satu pemain yang mengundang decak kagum publik. "What planet is Garrincha from?" demikian ditulis surat kabar harian El Mercurio.

Kisah Indonesia

Indonesia mengawali esai Galeano tentang Piala Dunia 1966 di Inggris. Bukan soal sepak bolanya, tapi soal pembantaian kaum komunis. "...setengah juta, satu juta, entah berapa banyak yang tewas," tulis Galeano.

Sebelum Piala Dunia 1966, trofi Jules Rimet sendiri sempat dicuri, namun ditemukan kembali oleh seekor anjing bernama Pickles di sebuah taman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: