Piala Dunia sebagai Riwayat Manusia
Ilustrasi opini "Piala Dunia Sebagai Riwayat Manusia" yang ditulis Eri Irawan-Dibuat dengan AI-
Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan adalah piala dunia terakhir yang ditulis Galeano. Empat tahun kemudian saat Brasil menjadi tuan rumah, kesehatannya memburuk, lalu meninggal pada 2015.
Bagi Galeano, penyelenggaraan Piala Dunia di Afrika memiliki arti simbolis yang penting, tentang benua yang selama berabad-abad mengalami penindasan, akhirnya mendapat kesempatan menjadi pusat perhatian dunia.
Namun Galeano mencatat, stadion-stadion baru berdiri megah di tengah salah satu negara yang masih menyimpan ketimpangan sosial yang besar. Di balik pesta sepak bola, kemiskinan dan ketidakadilan tetap menjadi kenyataan sehari-hari.
Galeano memuji kolektivitas Spanyol yang menjadi juara pada 2010. Namun kelucuan hadir saat sosok yang paling terkenal justru bukan pemain, melainkan gurita bernama Paul, yang menjadi sensasi dunia karena berhasil menebak hasil pertandingan dengan tingkat akurasi luar biasa.
Pada akhirnya, seperti diyakini Eduardo Galeano, Piala Dunia selalu lebih besar daripada sepak bola itu sendiri. Ia adalah panggung tempat kemenangan dan kekalahan, harapan dan luka, politik dan kemanusiaan, bertemu dalam satu cerita yang terus diperbarui setiap empat tahun.(*)
Eri Irawan adalah penggemar sepak bola yang sehari-hari menjadi legislator di DPRD Kota Surabaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: