Ketika Piala Dunia Menjadi Investasi Nasional

Ketika Piala Dunia Menjadi Investasi Nasional

ILUSTRASI Ketika Piala Dunia Menjadi Investasi Nasional.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Menurut estimasi IMF, belanja wisatawan dan pendapatan hak siar menghasilkan nilai tambah (gross value added) USD1,6–2,4 miliar atau sekitar 0,7–1,0 persen PDB Qatar pada 2022. Sekitar sejuta wisatawan berduyun-duyun berkunjung selama turnamen, sedangkan sebagian lainnya menginap di negara-negara tetangga seperti Uni Emirat Arab sehingga manfaat ekonomi turut menyebar ke kawasan Teluk. 

Angka tersebut memang tidak mengubah struktur ekonomi Qatar secara instan. Namun, ia memperlihatkan bahwa mega sporting event mampu menjadi katalis aktivitas ekonomi lintas sektor.

BACA JUGA:Jeda Piala Dunia

BACA JUGA:Mafia Bola dan Piala Dunia

Mengapa Dampak Jangka Panjang Justru Lebih Besar?

Kesalahan paling umum ketika menilai Piala Dunia adalah hanya menghitung pemasukan dari tiket, hotel, atau belanja wisatawan selama sebulan penyelenggaraan. Padahal, kontribusi ekonomi terbesar justru muncul bertahun-tahun sebelum dan sesudah turnamen.

Di sinilah relevansi public capital theory yang dikembangkan David Aschauer. Infrastruktur publik yang berkualitas meningkatkan produktivitas sektor swasta melalui penurunan biaya logistik, peningkatan konektivitas, efisiensi distribusi, dan kemudahan mobilitas tenaga kerja dan investasi.

IMF memperkirakan bahwa belanja modal pemerintah Qatar selama 2011–2022 mencapai sekitar USD230 miliar secara kumulatif. Dengan menggunakan long-term fiscal multiplier sebesar 0,8–1,0, investasi tersebut diperkirakan memberikan kontribusi 5–6 poin persentase terhadap pertumbuhan sektor nonhidrokarbon selama periode tersebut. 

Bahkan, bila dihitung hingga sebelum pandemi (2011–2019), kontribusinya diperkirakan mencapai 7–9 poin persentase.

Temuan itu memperlihatkan bahwa keuntungan ekonomi terbesar tidak berasal dari pertandingan sepak bolanya, tetapi dari infrastruktur yang tetap digunakan puluhan tahun setelah stadion sepi. 

Pandangan tersebut juga sejalan dengan endogenous growth theory yang dikembangkan Paul Romer. Investasi pada infrastruktur, kualitas institusi, dan modal manusia akan meningkatkan kapasitas produktif ekonomi secara permanen, tidak sekadar mendorong konsumsi jangka pendek.

Dalam jangka pendek, kontribusi Piala Dunia terhadap PDB memang relatif terbatas. IMF memperkirakan tambahan output 0,7–1 persen PDB. Nilai itu sebenarnya sebanding dengan pengalaman Korea Selatan pada Piala Dunia 2002. Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin tampak kecil jika dibandingkan dengan investasi yang sangat besar. 

Namun, ukuran keberhasilan event akbar tidak dapat dinilai hanya dari pertumbuhan PDB selama setahun. PDB hanyalah indikator arus ekonomi (flow), sedangkan infrastruktur merupakan aset (stock) yang menghasilkan manfaat ekonomi dalam jangka panjang. 

Bandara baru, jaringan metro, kawasan bisnis, pelabuhan, hotel, dan pusat konvensi terus menghasilkan aktivitas ekonomi bertahun-tahun setelah turnamen berakhir. Dengan kata lain, bila investasi tersebut memang dibutuhkan untuk pembangunan nasional, Piala Dunia hanyalah akselerator yang mempercepat realisasinya.

Tidak Semua Negara Berhasil

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: