Ketika Piala Dunia Menjadi Investasi Nasional
ILUSTRASI Ketika Piala Dunia Menjadi Investasi Nasional.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa Piala Dunia bukan jaminan kemakmuran. Jerman 2006 sering dipandang sebagai salah satu contoh sukses. Sebagian besar stadion telah tersedia sebelum turnamen sehingga biaya tambahan relatif kecil.
Dampak ekonomi muncul melalui peningkatan pariwisata, konsumsi domestik, dan penguatan citra Jerman sebagai destinasi bisnis serta wisata Eropa.
Korea Selatan dan Jepang pada 2002 juga memperoleh manfaat melalui modernisasi infrastruktur transportasi dan peningkatan eksposur internasional. IMF bahkan membandingkan kontribusi jangka pendek Qatar yang relatif sebanding dengan pengalaman Korea Selatan.
Sebaliknya, Brasil 2014 menghadapi kritik keras. Sejumlah stadion dibangun di kota yang tidak memiliki klub sepak bola besar sehingga pemanfaatannya pascaturnamen Piala Dunia sangat rendah. Beberapa berubah menjadi white elephants, aset mahal yang biaya pemeliharaannya justru membebani anggaran publik.
Afrika Selatan pada 2010 mengalami situasi serupa. Infrastruktur memang meningkat, tetapi manfaat ekonominya tidak sebesar yang diharapkan karena kapasitas industri dan pariwisata belum mampu mempertahankan momentum setelah turnamen berakhir.
Sementara itu, Rusia 2018 memperoleh manfaat berupa modernisasi jaringan transportasi dan peningkatan citra internasional meski dampak jangka panjang kemudian dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang berkembang beberapa tahun setelahnya.
Perbandingan tersebut menunjukkan satu pola yang konsisten: negara yang telah memiliki strategi pembangunan nasional memperoleh manfaat lebih besar fdaripada negara yang membangun infrastruktur hanya demi memenuhi persyaratan FIFA.
Namun, ada satu manfaat ekonomi yang sering luput dari perhitungan statistik, yakni nation branding. Dalam ekonomi modern, reputasi suatu negara merupakan aset yang sangat bernilai.
Kepercayaan investor, minat wisatawan, penyelenggaraan konferensi internasional, hingga keputusan perusahaan multinasional untuk membuka kantor regional sering kali dipengaruhi persepsi global terhadap suatu negara.
Piala Dunia memberi Qatar panggung untuk memperkenalkan diri sebagai episentrum bisnis, penerbangan, olahraga, dan pariwisata di Timur Tengah. IMF mencatat bahwa visibilitas global tersebut mendukung pemulihan sektor pariwisata sepanjang 2023 dan memperkuat agenda diversifikasi ekonomi di luar minyak dan gas.
Dalam perspektif agglomeration economics yang dikemukakan Paul Krugman, infrastruktur modern dan peningkatan konektivitas akan menarik konsentrasi aktivitas ekonomi baru. Ketika investor, perusahaan, dan tenaga kerja berkualitas berkumpul dalam satu kawasan, produktivitas meningkat melalui efek jaringan (network effects) yang sulit diukur hanya dengan statistik PDB tahunan.
Aset atau Liabilitas?
Pelajaran terbesar dari Qatar adalah Piala Dunia tidak otomatis menghasilkan keuntungan. Ia menjadi aset ekonomi apabila memenuhi sedikitnya empat syarat. Pertama, pembangunan infrastruktur memang dibutuhkan tanpa memandang ada atau tidaknya Piala Dunia.
Kedua, proyek memiliki nilai ekonomi setelah turnamen selesai. Ketiga, pemerintah mampu memanfaatkan momentum untuk menarik investasi swasta. Keempat, penyelenggaraan menjadi bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional.
Sebaliknya, Piala Dunia berubah menjadi liabilitas fiskal apabila stadion dibangun tanpa kebutuhan riil, proyek dibiayai utang yang berlebihan, aset tidak dimanfaatkan setelah turnamen, dan pemerintah gagal menciptakan aktivitas ekonomi baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: