Kemarahan Mahasiswa yang Mengguncang New Delhi, Kecoak Bergerak
FOUNDER PARTAI KECOAK Abhijet Dipke diwawancarai media di tengah-tengah aksi di New Delhi, 20 Juli 2026.-SAJJAD HUSSAIN-AFP-
"Ini adalah hari yang memalukan dalam sejarah demokrasi India. Mahasiswa yang datang memperjuangkan persoalan nyata dipukuli secara brutal oleh polisi Delhi," kata juru bicara CJP, Ashutosh Ranka.
BACA JUGA:Indonesia dan India Perkuat Kerjasama Keamanan Siber, Terorisme, dan Kejahatan Lintas Batas
BACA JUGA:Prabowo Dorong Kampus Top India Hadir di Indonesia
Ranka mengatakan pemerintah belum memberikan jawaban atas tuntutan mereka. Padahal, sehari sebelumnya ia telah bertemu Menteri Senior JP Nadda.
Karena itu, CJP memastikan aksi tidak akan berhenti. ’’Pradhan harus dipecat," tegas Ranka.
Meski jumlah peserta aksi pada Selasa lebih sedikit dibanding sehari sebelumnya, ratusan demonstran tetap bertahan di Jantar Mantar.
Pendiri CJP, Abhijeet Dipke, meminta para pendukungnya tidak kehilangan semangat.
"Mereka ingin mematahkan semangat kita. Jangan biarkan mereka membungkam kita," katanya dari atas sebuah truk.

DEMONSTRAN PINGSAN di tengah aksi di New Delhi, 20 Juli 2026.-SAJJAD HUSSAIN-AFP-
Semangat serupa juga datang dari para peserta aksi. "Kami justru menjadi semakin tidak takut," kata mahasiswa hukum berusia 25 tahun, Chandra Pratap Sishwi. Ia mengaku darahnya mendidih ketika melihat mahasiswa dipukuli aparat.
Kemarahan mahasiswa sebenarnya telah lama terakumulasi. India memang menikmati pertumbuhan ekonomi yang pesat. Namun, jutaan penduduk masih kesulitan memperoleh pekerjaan yang stabil dan bergaji layak.
Situasi itu diperparah oleh berbagai skandal dalam sistem pendidikan.
Bulan lalu, sekitar 2,2 juta calon mahasiswa kedokteran harus mengikuti ujian ulang dengan pengamanan ketat. Ujian sebelumnya dibatalkan setelah terjadi kebocoran soal.
Belum selesai persoalan itu, muncul lagi kontroversi lain. Hampir dua juta siswa sekolah menengah ikut terdampak masalah dalam sistem penilaian ujian secara daring.
Rangkaian kasus tersebut menggerus kepercayaan publik terhadap sistem pengujian nasional India.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: