Halusinasi Kompetensi Kaum Kontrang-kantring

Halusinasi Kompetensi Kaum Kontrang-kantring

ILUSTRASI Halusinasi Kompetensi Kaum Kontrang-kantring.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Ketiga, resiliensi komunikasi humanis: memperkuat komunikasi tatap muka, kolaborasi organik, dan intuisi kemanusiaan yang tidak sanggup direplikasi oleh pemrosesan bahasa alami (natural language processing) milik mesin.

Pendidikan media kita harus mampu menanamkan kesadaran bahwa keunggulan manusia di era AI bukan terletak pada seberapa cepat ia menemukan jawaban dari mesin, melainkan seberapa jernih dan bijak ia merumuskan pertanyaan tentang hidupnya sendiri.

Menembus Beban Digital

AI sejatinya adalah alat pembebas jika digunakan dengan kedaulatan berpikir. Namun, ia akan menjadi penjara tak kasatmata jika diterima tanpa daya kritis. 

Generasi digital Indonesia tidak akan lepas dari jerat kontrang-kantring selama mereka masih membiarkan kompas hidupnya dikendalikan algoritma dan kalkulasi kecerdasan buatan.

Kecepatan teknologi yang melompat jauh itu pada akhirnya menyisakan kelelahan yang luar biasa di dalam ruang batin anak muda. Ketika mesin memaksa kita berpikir secepat pemrosesan data, mental manusia yang memikulnya mulai retak. 

Kebingungan mekanis di era AI ini tak lagi sekadar persoalan teknis atau gagap teknologi. Ia telah merembet menjadi beban psikologis yang berat, melahirkan kecemasan eksistensial, dan mengikis resiliensi mental generasi muda kita.

AI sejatinya adalah alat pembebas jika digunakan dengan kedaulatan berpikir. Namun, ia akan menjadi penjara tak kasatmata jika kompas hidup anak muda sepenuhnya diserahkan pada kalkulasi algoritma. 

Kecepatan mesin yang melompat jauh itu pada akhirnya menuntut adaptasi kognitif yang luar biasa lelah. Ketika ritme hidup dipaksa menyamai kecepatan pemrosesan data, kebisingan digital tersebut perlahan merembet masuk, mengikis ketenangan ruang batin, dan menjebak jiwa muda dalam labirin kecemasan eksistensial.

Lantas, bagaimana lanskap mental generasi kita ketika dipaksa terus berlari bersama mesin? Kita perlu membedah lebih dalam beban psikologis di balik kegelisahan generasi yang sedang kontrang-kantring ini. (*) 

*) Jokhanan Kristiyono adalah dosen/akademisi media komunikasi dan teknologi, Stikosa AWS.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: